Twitter: @Glissandio
Tampilkan postingan dengan label awan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label awan. Tampilkan semua postingan

Senin, 07 Oktober 2013

0 komentar

Cara Menentukan Usia Bintang

Bagi kebanyakan orang, bila kita melihat bintang di langit, tentunya kita mendapatkan bahwa semua bintang hampirlah serupa satu sama lain, yaitu bola gas yang berpijar kemerlap. Pertanyaannya adalah, bagaimanakah kita tahu berapa usia bintang itu? 


http://www.le.ac.uk/physics/faulkes/web/images/stars.jpg

Belum lama ini, astronom telah mendapatkan sebuah metode untuk menentukan usia bintang secara akurat dari mengamati bagaimana bintang itu berotasi. Bagaikan sebuah gasing yang diputar di atas meja, maka seberapa cepat atau lambat bintang itu berotasi dapat menjadi penentu waktu berapakah usia sebuah bintang. 

Hal tersebut disampaikan oleh astronom bernama Soren Meibom dari Harvard-Smithsonian Center for Astrophysics pada pertemuan American Astronomical Society ke 218. 


Mengapa para astronom perlu memahami usia sebuah bintang? 

Kajian usia bintang mempunyai peran yang sangat penting pada berbagai studi di astronomi, secara khusus tentunya bagi pencarian planet-planet di luar Tata Surya, mempelajari bagaimana pembentukannya, perkembangannya, dan mengapa setiap sistem keplanetan yang telah ditemukan begitu unik satu dengan yang lainnya. 

Dengan mengetahui usia bintang, maka kita dapat menentukan usia planet-planetnya, serta apakah mungkin ada kehidupan yang sempat tumbuh di luar sana. 


Semakin tua usia planet, semakin besar kemungkinan kehidupan terbentuk, karena sebagaimana yang telah diketahui sistem keplanetan yang berada pada sebuah bintang biasanya terbentuk bersamaan dengan kelahiran bintang itu sendiri. 

Mengetahui usia bintang cenderung mudah untuk ditentukan apabila bintang yang akan diukur itu berada di dalam sebuah sistem gugus bintang. 

Adalah pengetahuan dasar bagi astronomi untuk mendapatkan hubungan warna dan kecerlangan bintang-bintang di dalam gugus guna menentukan usia gugus, akan tetapi kondisinya akan menjadi sangat sulit apabila bintang yang akan ditentukan usianya tidak berada dalam satu sistem gugus. 

Sebagaimana bintang-bintang yang telah ditemukan mempunyai sistem keplanetan, kebanyakan tidak berada di dalam gugus, sehingga menentukan usianya menjadi tantangan tersendiri dalam studi astronomi. 

Penelitian yang dilakukan oleh Meibon dkk mempergunakan pengamatan dari wahana Kepler, dengan melakukan pengukuran rasio rotasi pada sebuah gugus berusia 1 milyar tahun yang disebut sebagai NGC 6811. 


http://langitselatan.com/wp-content/uploads/2011/05/trueage.jpg
NGC 6811

Nilai ini hampir mencapai dua kali lipat dari penelitian sebelumnya, dan usia sekitar itu masih dikatakan penyelidikan pada gugus muda. 

Penelitian ini memberi pemahaman baru pada hubungan rasio rotasi bintang dengan usianya. Jika kesahihan hubungan rotasi bintang dan usia dapat diperoleh, maka pengukuran periode rotasi bintang dari setiap bintang dapat dipergunakan untuk menentukan usianya – sebuah teknik yang disebut sebagai gyrochronology, tetapi hal ini tidak serta merta dapat dipergunakan. 

Sebagaimana sistem waktu di Bumi yang memerlukan standar, maka sistem penentuan waktu (usia) tersebut harus dapat dikalibrasikan kepada sebuah standar. 

Sebagaimana kita di Bumi menyatakan bahwa satu tahun terdiri dari 365 hari, dst, maka agar dapat mendapat kesesuaian waktu, harus dapat diperoleh sebuah kestandaran. 

Untuk itu, maka langkah pertama yang para peneliti itu lakukan adalah memulai dari pengukuran sebuah sistem gugus yang telah diketahui usianya. 

Dengan mengukur rotasi pada bintang-bintang anggota gugus, dapat dipelajari rasio putaran bintang-bintangnya untuk menentukan usia-usianya. Pengukuran rotasi bintang anggota gugus pada usia yang berbeda dapat menghubungkan antara putaran dan usianya. 

Untuk dapat mengukur putaran bintang, astronom harus mendapatkan perubahan kecerlangan bintang akibat adanya bintik bintang pada permukaan bintang, sebagaimana bintik Matahari pada permukaan Matahari. 


http://images.iop.org/objects/phw/news/15/5/32/star2.jpg

Bila ada bintik terbentuk pada permukaan dan berada pada arah ke pengamat, maka bintang akan mengalami sedikit peredupan, sampai ketika bintik itu menghilang, dan bintang kembali sedikit lebih cerlang. 

Dengan menentukan berapa lama bintik itu berotasi pada permukaan bintang, maka dapat ditentukan berapa cepat bintang yang diamati berotasi. 

Tentunya perubahan kecerlangan bintang akibat bintik adalah sangat-sangat kecil, lebih kecil dari satu persen dan menjadi lebih kecil lagi pada bintang yang lebih tua. 

Dengan demikian pengukuran rotasi bintang pada bintang-bintang yang lebih tua dari setengah milyar tahun tidak dapat dilakukan dari permukaan Bumi dikarenakan gangguan atmosfer Bumi. 


http://nationalgeographic.co.id/admin/files/daily/201105241617330_n.jpg


Tetapi permasalah itu saat ini telah dapat diatasi mempergunakan pengamatan wahana Kepler, karena wahana itu telah dirancang guna mengukur kecerlangan bintang dengan sangat presisi guna penentuan adanya sistem keplanetan pada bintang-bintang. 

Tentunya menentukan hubungan usia-rotasi pada kasus NGC 6811 ini bukanlah pekerjaan mudah bagi Meibom dkk karena mereka telah menghabiskan waktu empat tahun menentukan bintang-bintang anggota gugus atau kebetulan bintang lain yang berada pada arah pandang yang sama. 

Hal ini dilakukan mempergunakan peralatan yang disebut Hectochelle yang terpasang pada teleskop MMT di Mt. Hopkins Arizona selatan. Alat Hectochelle dapat mengamati 240 bintang secara bersamaan, dan dengan demikian telah mengamati sekitar 7000 bintang selama empat tahun pengamatannya.

Setelah mengetahui bintang-bintang yang merupakan anggota gugus, maka selanjutnya data dari Kepler dipergunakan untuk menentukan seberapa cepat bintang-bintang itu berputar. 

Mereka menemukan periode rotasi antara 1 sampai 11 hari (yang lebih panas dan masif berputar lebih cepat), dibanding dengan Matahari yang rasio putarannya hanya 30 hari. 

Yang paling penting dari temuan mereka adalah adanya hubungan massa bintang dengan rasio rotasi dengan sebaran data yang kecil. Temuan ini mengkonfirmasi bahwa gyrochronology adalah metode baru yang dapat dipergunakan untuk mempelajari usia sebuah bintang. 

Tim Meibom saat ini berencana untuk mempelajari sistem gugus yang lebih tua guna mengkalibrasi penentu waktu bintang mereka. Ini tentunya merupakan langkah yang lebih sulit karena bintang yang lebih tua berputar lebih lambat dan memiliki lebih sedikit bintik-bintik, yang artinya perubahan kecerlangannya akan sangat-sangat kecil. 

Pekerjaan Meibom dkk itu telah menjadi sebuah lompatan dalam pemahaman pada bagaimanakah bintang-bintang di langit (termasuk Matahari) bekerja, demikian juga pada pada pemahaman sistem keplanetan di bintang-bintang yang jauh.



Sumber 
( Label: , , , , , , , , ) Read more

Senin, 22 Juli 2013

0 komentar

Awan terindah didunia

8 Formasi Awan yang paling Indah dan Menakjubkan di Dunia
8 Formasi Awan yang paling Indah dan Menakjubkan di Dunia - Alam memang sungguh menakjubkan dan membuat kita terpesona melihat keindahannya. Kita hanya bisa bersyukur melihat lukisan tuhan yang begitu indah ini.

Seperti halnya awan-awan ini yang terlihat sangat memukau. Mungkin kita bakal mengira ini hasil photoshop, namun bukan. Ini adalah hasil proses alam yang membuat sebuah keindahan sedemikian rupa.berikut 8 Formasi Awan yang paling Indah dan Menakjubkan di Dunia,dikutip dari Kapanlagi:

1. Gunung Fuji, Jepang
Gunung Fuji, Jepang
Awan ini nampak seperti memayungi Gunung Fuji. Kejadian ini jarang terjadi, dan sangat beruntung jika kalian bisa melihatnya. Awan ini terbentuk karena udara lembab yang mengalir cepat atas kenaikan elevasi. Awan tersebut membuat Gunung Fuji nampak indah.

2. Canterbury, New Zealand
Canterbury, New Zealand
Awan yang sungguh menakjubkan dan jarang terjadi di Selandia Baru. Terlihat seolah guratan lukisan di kanvas, namun ini benar-benar asli.

3. Quebec, Kanada
Quebec, Kanada
Awan ini terbentuk karena badai yang terjadi di wilayah tersebut. Meski terlihat ngeri namun jika dilihat terlihat menakjubkan.

4. Gunung Rainer, Washington
Gunung Rainer, Washington
Ini merupakan bentuk awan lenticular klasik yang terjadi di sekitaran Gunung Rainer di Washington. Bentuk awan ini unik menyerupai UFO dan sering terjadi di gunung tersebut.

5. Pantagonia, Argentina
Pantagonia, Argentina
Sebuah awan yang menyerupai UFO juga terjadi di daerah pegunungan di Pantagoni, Argentina. Bentuk awan ini mirip sekali dengan pesawat milik para alien tersebut.

6. Queensland, Australia
Queensland, Australia
Awan ini membentuk sebuah gulungan memanjang yang terbagi menjadi 3 bagian. Fenomena awan ini sering muncul pada bulan September dan pertengahan November.

7. Estonia
Estonia
Berikut adalah contoh lain dari jenis awan tertinggi pembentuk (sebanyak 50 mil di atmosfir). Di latar depan adalah Kuresoo rawa, di selatan Estonia, yang memberikan skenario refleksi yang cukup menakjubkan. Pemandangan seperti ini mirip seperti di cerita atau imajinasi kita.

8. Seattle, Amerika
Seattle, Amerika
Awan ini terlihat lembut seperti gula kapas. Berserakan namun terlihat indah di mata. Akan sangat pas menikmati awan ini sambil merebah di sebuah taman tanpa melakukan apapun.
 
 
 
( Label: , , , , , , , , , ) Read more
Best viewed on firefox 5+
Frafiez Family © 2009 - 2014. Keep Cheerful for Shared