Twitter: @Glissandio
Tampilkan postingan dengan label burung. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label burung. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 05 Oktober 2013

0 komentar

Burung Purba Seperti Kupu - Kupu

Ternyata warna burung purba tersebut sangat indah, mirip dengan warna kupu-kupu. Andai saja burung tersebut masih hidup, pasti banyak wanita pecinta burung yang akan memeliharanya. Tapi ini termasuk burung yang Buas lho...

Archiornis Huxleyi Burung Purba Yang Indah Bak Kupu-Kupu
Para ilmuwan yang berasal dari Museum Sejarah Arkeologi Beijing telah memecahkan secara lengkap kode misteri warna tubuh burung purba yang dikenal dengan Archiornis huxleyi.

Archiornis Huxleyi Burung Purba Yang Indah Bak Kupu-Kupu
Archiornis huxleyi
 yang hidup kira-kira 155 juta tahun lalu ini termasuk jenis dinosaurus purba, hewan sejenis burung buas dan berkaki kecil.

Archiornis Huxleyi Burung Purba Yang Indah Bak Kupu-Kupu
Untuk memecahkan misteri warna burung purba ini, para ilmuwan Beijing bekerja sama dengan ilmuwan ahli dinosaurus, ilmuwan ahli burung modern, dan ilmuwan ahli burung kuno yang berasal dari Peking University, Yale University, University of Texas, dan University of Akron.



Sumber 
( Label: , , , , , , , ) Read more

Rabu, 02 Oktober 2013

0 komentar

Gagak wariskan dendam pada anaknya

Sebuah penelitian yang dilakukan selama 5 tahun terhadap gagak-gagak yang tinggal di kawasan Seattle, Washington, Amerika Serikat menunjukkan bahwa burung gagak bisa mengingat mana ‘manusia yang berbahaya’ bagi keselamatannya.


Hebatnya, burung ini bisa memberitahukan informasi ini pada anak-anaknya serta gagak-gagak lain.

Menurut John Marzluff, profesor dari University of Washington, kemampuan ini telah membantu spesies itu beradaptasi dengan sukses serta berkembang biak bersama dengan manusia.

“Perilaku setiap individu manusia terhadap hewan sangat berbeda dan berubah-ubah,” kata Marzluff, seperti dikutip dari ABC, 30 Juni 2011. “Berhubung manusia sering hadirkan ancaman bagi hewan, kemampuan mempelajari perilaku sosial ini sangat berguna bagi hewan,” ucapnya.

Pada percobaan, peneliti menggunakan topeng lalu menjebak, mengikat kemudian melepas 7 sampai 15 ekor burung di 5 kawasan yang berbeda di Seattle. Untuk mengetahui dampak penangkapan tersebut, selama 5 tahun kemudian, dilakukan penelitian terhadap perilaku burung itu terhadap orang-orang yang melintas di kawasan lokasi penangkapan.

Peneliti menggunakan topeng ‘penjahat’ atau topeng yang mereka pakai saat menjebak para burung. Setelah itu mereka membandingkannya dengan menggunakan topeng lain yang tidak ada kaitannya dengan penangkapan terhadap para tersebut.

Dalam 2 minggu setelah penangkapan, rata-rata 26 persen gagak ‘memarahi’ orang yang menggunakan topeng penjahat. Mereka mengganggu orang itu dengan mengepakkan sayap dan mengibaskan ekornya. Kadang, tindakan gagak yang pernah disakiti itu dibantu oleh gagak-gagak lain yang bergabung dan mengerumuni ‘penjahat’ tersebut.

Setelah lebih dari setahun, lebih dari 30 persen menyerang orang yang memakai topeng penjahat. Angkanya malah meningkat lebih dari dua kali lipat, yakni mencapai 66 persen setelah tiga tahun dari waktu penjebakan terhadap gagak.

Marzluff menyebutkan, kawasan di mana gagak menyerang manusia yang menggunakan topeng ‘penjahat’ juga semakin meluas. Namun demikian, tidak ada perubahan pada perilaku gagak terhadap manusia yang menggunakan topeng ‘baik-baik’.




Sumber
( Label: , , , , , , ) Read more

Sabtu, 28 September 2013

0 komentar

Mata burung melihat lebih banyak warna dibanding manusia



"Hal yang mengejutkan untuk disadari adalah bahwa meskipun warna burung terlihat begitu sangat beragam dan indah bagi kita, tapi kita adalah buta warna jika dibandingkan dengan burung."

Warna-warna burung yang brilian telah mengilhami penyair dan pecinta alam, namun para peneliti dari Universitas Yale dan Universitas Cambridge menyatakan bahwa warna-warna tersebut hanya mewakili sebagian kecil dari apa yang mampu dilihat oleh burung.
Temuan ini didasarkan pada studi sistem visual burung, dilaporkan dalam jurnalBehavioral Ecology edisi 23 Juni, menunjukkan bahwa selama jutaan tahun evolusi, warna bulu berangkat dari warna yang suram hingga menjadi warna terang seiring burung secara bertahap memperoleh kemampuan untuk membuat pigmen baru dan struktural warna.
“Pakaian kita warnanya cukup menjemukan sebelum adanya penemuan pewarna anilin, tapi kemudian warna menjadi murah dan terjadi ledakan pakaian warna-warni yang kita pakai saat ini,” kata Richard Prum, kepala dan Profesor William Robertson Coe di Departemen Ornitologi, Ekologi dan Biologi Evolusi, yang juga adalah penulis pendamping dalam makalah studi. “Hal yang sama sepertinya telah terjadi pula pada burung.”
Selama bertahun-tahun para ilmuwan telah berspekulasi bagaimana burung memperoleh warna mereka, namun studi Yale/Cambridge merupakan yang pertama yang mempertanyakan apakah keragaman warna burung sebenarnya terlihat oleh burung itu sendiri. Ironisnya, jawabannya adalah bahwa burung melihat warna yang lebih banyak dari manusia, dan burung pun mampu melihat warna yang lebih banyak lagi dari apa yang mereka miliki pada bulu mereka. Burung memiliki kerucut warna tambahan di retina mereka yang sensitif terhadap kisaran ultraviolet sehingga mereka melihat warna-warna yang tak terlihat oleh manusia.
Seiring waktu, burung telah mengevolusikan kombinasi warna yang mempesona termasuk berbagai pigmen melanin (pigmen yang memberi warna pada kulit manusia), pigmen karotenoid (pigmen yang berasal dari pola makan mereka), dan warna struktural, contohnya seperti mata biru pada manusia. Studi ini menunjukkan bahwa warna struktural menghasilkan bagian terbesar dari keanekaragaman warna pada bulu burung, meskipun relatif jarang di kalangan burung.
Penulis pendamping Maria Caswell Stoddard dari Cambridge, yang mulai meneliti sistem visual burung saat sebagai sarjana di Yale, ingin tahu mengapa burung belum mengembangkan kemampuan untuk memproduksi, misalnya, warna kuning atau merah ultraviolet pada bulu mereka – warna-warna yang tak terlihat oleh manusia tapi terlihat oleh burung sendiri.
“Kami tak tahu mengapa warna bulu terbatas pada subset ini,” kata Stoddard. “Keluar dari warna gamut mungkin mustahil untuk dibuat dengan mekanisme yang tersedia atau mungkin itu merugikan.”
“Itu tidak berarti bahwa palet warna pada burung akhirnya mungkin tidak berkembang pada perluasan ke warna baru,” kata Prum.
“Burung hanya bisa membuat sekitar 26 hingga 30 persen dari warna yang mampu mereka lihat namun mereka telah bekerja keras selama jutaan tahun untuk mengatasi keterbatasan ini,” kata Prum. “Hal yang mengejutkan untuk disadari adalah bahwa meskipun warna burung terlihat begitu sangat beragam dan indah bagi kita, tapi kita adalah buta warna jika dibandingkan dengan burung.”
 
( Label: , , , , ) Read more
Best viewed on firefox 5+
Frafiez Family © 2009 - 2014. Keep Cheerful for Shared