Twitter: @Glissandio
Tampilkan postingan dengan label hewan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label hewan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 03 Januari 2014

0 komentar

Harimau Sumatera

  / ©: WWF-Indonesia/Saipul Siagian
Nama Latin: Panthera tigris sumatrae

Harimau Sumatera merupakan satu dari enam sub-spesies harimau yang masih bertahan hidup hingga saat ini dan termasuk dalam klasifikasi satwa kritis yang terancam punah (critically endangered). Jumlah populasinya di alam bebas hanya sekitar 400 ekor. Sebagai predator utama dalam rantai makanan, harimau mempertahankan populasi mangsa liar yang ada di bawah pengendaliannya, sehingga keseimbangan antara mangsa dan vegetasi yang mereka makan dapat terjaga.

Harimau Sumatera menghadapi dua jenis ancaman untuk bertahan hidup: mereka kehilangan habitat karena tingginya laju deforestasi dan terancam oleh perdagangan illegal dimana bagian-bagian tubuhnya diperjualbelikan dengan harga tinggi di pasar gelap untuk obat-obatan tradisional, perhiasan, jimat dan dekorasi. Harimau Sumatera hanya dapat ditemukan di pulau Sumatera, Indonesia.

Ciri-ciri Fisik
  • Harimau Sumatera memiliki tubuh yang relatif paling kecil dibandingkan semua sub-spesies harimau yang hidup saat ini.
  • Jantan dewasa bisa memiliki tinggi hingga 60 cm dan panjang dari kepala hingga kaki mencapai 250 cm dan berat hingga 140 kg. Harimau betina memiliki panjang rata-rata 198 cm dan berat hingga 91 kg.
  • Warna kulit harimau Sumatera merupakan yang paling gelap dari seluruh harimau, mulai dari kuning kemerah-merahan hingga oranye tua.

Ancaman
Harimau Sumatera berada di ujung kepunahan karena hilangnya habitat secara tak terkendali, berkurangnya jumlah spesies mangsa, dan perburuan. Laporan tahun 2008 yang dikeluarkan oleh TRAFFIC – program kerja sama WWF dan lembaga Konservasi Dunia, IUCN, untuk monitoring perdagangan satwa liar – menemukan adanya pasar ilegal yang berkembang subur dan menjadi pasar domestik terbuka di Sumatera yang memperdagangkan bagian-bagian tubuh harimau. Dalam studi tersebut TRAFFIC mengungkapkan bahwa paling sedikit 50 harimau Sumatera telah diburu setiap tahunnya dalam kurun waktu 1998- 2002. Penindakan tegas untuk menghentikan perburuan dan perdagangan harimau harus segera dilakukan di Sumatera.

Populasi Harimau Sumatera yang hanya sekitar 400 ekor saat ini tersisa di dalam blok-blok hutan dataran rendah, lahan gambut, dan hutan hujan pegunungan. Sebagian besar kawasan ini terancam pembukaan hutan untuk lahan pertanian dan perkebunan komersial, juga perambahan oleh aktivitas pembalakan dan pembangunan jalan. Bersamaan dengan hilangnya hutan habitat mereka, harimau terpaksa memasuki wilayah yang lebih dekat dengan manusia dan seringkali dibunuh atau ditangkap karena tersesat memasuki daerah pedesaan atau akibat perjumpaan tanpa sengaja dengan manusia.

Provinsi Riau adalah rumah bagi sepertiga dari seluruh populasi harimau Sumatera. Sayangnya, sekalipun sudah dilindungi secara hukum, populasi harimau terus mengalami penurunan hingga 70 persen dalam seperempat abad terakhir. Di Provinsi Riau, saat ini diperkirakan hanya tersisa 192 ekor harimau di Riau.

Upaya yang Dilakukan WWF
WWF bekerja sama dengan pemerintah Indonesia, organisasi konservasi lainnya, dan masyarakat setempat untuk menyelamatkan harimau Sumatera dari ancaman kepunahan. WWF juga berupaya melakukan pendekatan dan bekerja sama dengan perusahaan yang konsesinya mengancam habitat harimau agar mereka mampu menerapkan praktik-praktik pengelolaan lahan yang lebih baik (Better Management Practices) dan berkelanjutan. Pemerintah Indonesia di tahun 2004 telah mendeklarasikan sebuah kawasan penting, Tesso Nilo, sebagai taman nasional untuk memastikan perlindungan gajah dan harimau Sumatera di alam. WWF juga berpartisipasi aktif dalam penyusunan Strategi dan Rencana Aksi Konservasi Harimau Sumatera 2007-2017 yang dipimpin oleh Departemen Kehutanan RI.

Melalui momentum Kampanye Tahun Harimau 2010, WWF-Indonesia secara aktif mendorong dimasukkannya enam lanskap prioritas harimau Sumatra kedalam Program Nasional Pemulihan Harimau Sumatra. Program nasional tersebut kemudian diadopsi sebagai program global oleh 13 negara sebaran harimau dalam International Tiger Forum di St. Petersburg, Russia Nov 2010. Landskap prioritas perlindungan harimau Sumatra tersebut adalah Ulu Masen, Kampar-Kerumutan, Bukit Tigapuluh, Kerinci Seblat, Bukit Balai Rejang Selatan, dan Bukit Barisan Selatan.

WWF terus melakukan penelitian ilmiah tentang harimau Sumatera di Riau dengan menggunakan kamera jebakan (camera trapping) untuk memperkirakan besarnya populasi, habitat, dan distribusi satwa loreng tersebut, serta untuk mengidentikasi koridor-koridor satwa liar yang membutuhkan perlindungan. WWF--bersama dengan mitra terkait di lapangan--juga membentuk tim patroli anti perburuan dan tim pendidikan dan penyadaran yang bertugas membantu masyarakat lokal memitigasi konflik manusia-harimau di daerah-daerah rawan konflik harimau.


Sumber
( Label: , , , , , , ) Read more

Kamis, 02 Januari 2014

0 komentar

Rusa kutub

Pada umumnya, kulit sejenis rusa kutub ini berwarna antara cokelat dan putih, tetapi tidak pernah seluruhnya cokelat atau putih.



Di musim panas, warnanya akan dominan cokelat tapi lehernya tetap berwarna keputih-putihan.


Sedangkan pada musim dingin, warna putihnya menyebar dan menjadi jelas meskipun warna cokelatnya tidak sepenuhnya lenyap.


Tingkat perubahan warnaya juga tergantung dari kondisi habitat sekitarnya.



Sumber
( Label: , , , , , ) Read more

Senin, 30 Desember 2013

0 komentar

Harimau jawa belum punah ?



Didik Raharyono, peneliti karnivora di Jawa yang masih meyakini bahwa harimau Jawa belum punah. Foto: Tommy Apriando


Tak banyak peneliti Harimau Jawa di Indonesia saat ini. Bahkan pemerintah pun jarang melakukan penelitian dan pengawasan terhadap endemik hutan Jawa ini. Kondisi hutan Jawa yang semakin meranggas berdampak luas pada populasi karnivora Jawa ini.
Berawal dari keprihatinan ini Didik Raharyono melakukan penelitian terhadap populasi karnivora-karnivora di Jawa. Masuk kedalam hutan Jawa untuk memasang “camera Trap” sudah ia lakukan sejak puluhan tahun lalu. Pak Didik panggilan akrabnya, masih yakin bahwa karnivora terbesar Jawa yaitu Harimau Jawa masih ada di hutan-hutan yang ada di Jawa ini. Selain berdasar pada keterangan dari banyak warga yang tinggal sekitar hutan di Jawa, beberapa bukti lain, seperti feses, cakaran, kuku, bulu dan lainnya ia dapatkan.
Spesimen sisa pembunuhan Harimau jawa dan Macan tutul koleksi 1997 – 2010. Foto: Didik Raharyono
Mongabay: Apa yang melatar belakangi anda terus melakukan penelitian terhadap Karnivora Jawa?
Didik Raharyono: Belum banyak masyarakat kita yang memperhatikan kelestarian spesies karnivora di Jawa. Dari segi keilmuan terhadap jenis-jenisnya dan adanya kecenderungan penyusutan hutan sebagai habitat bagi golongan karnivora di Jawa. Sedangkan sebagian besar Karnivora merupakan top predator yang dapat dijadikan Bio-indikator habitat yang masih baik.
Mongabay: Apa saja karnivora endemik di Jawa ? Berapa jumlah populasi mereka?
Didik Raharyono: Harimau Jawa populasinya belum diketahui, bahkan dianggap punah; Macan tutul jawa: estimasi meta populasi dari sebaran habitat yang masih tersisa dari Kawasan Konservasi maupun Non-Konservasi sampai saat ini masih sekitar 500-an ekor (perkiraan kasar, belum dilakukan pendataan secara ilmiah). Lalu Kucing Bakau, tetapi saya belum tahu perkiraan populasinya, sebab spesiesini juga hampir tidak terpantau. Lalu Biul jawa juga endemik, dan belum diketahui populasinya di alam, Sigung atau teledu juga endemik jawa, populasinya belum diketahui.
Sisa kulit harimau Jawa yang dibunuh tahun 2008. Foto: Didik Raharyono
Mongabay: Sejak kapan anda melakukan penelitian terhadap Karnivor Jawa ? Apa saja yang anda dapatkan sampai saat ini ?
Didik Raharyono : Sejak tahun 1997 khusus untuk harimau Jawa, lalu mulai 2003 meneliti macan tutul. Dan setelah 2006 merambah ke jenis kucing kecil. Dari pengalaman tersebut, saya memperoleh banyak pengalaman dan pengetahuan baru yang tidak saya jumpai saat kuliah di Biologi UGM.
Mongabay: Karnivora Jawa tidak bisa di lepaskan dari habitanya yaitu Hutan. Bagaimana anda melihat kondisi Hutan di Jawa ?
Didik Raharyono : Karnivora memang golongan jenis hewan yang hidupnya membutuhkan teritori. Kondisi hutan di jawa saat ini sudah banyak terdegradasi. Hutan dataran rendah Jawa yang sebenarnya berpotensi memiliki kekayaan hayati lebih tinggi dari pada hutan di pegunungan, juga hampir hilang (hanya tersisa di beberapa Taman nasional). Selain itu, untuk hutan dataran rendah telah banyak digunakan sebagai kawasan hutan produksi yang menggunakan sistem penanaman pohon yang sejenis. Selain itu, kondisi hutan di jawa saat ini sudah terfragmentasi menjadi beberapa potongan, mirip kondisi kepulauan kecil yang ada di ‘samudra’ (mengalami insularisasi). Sedangkan luas hutan di Jawa saat ini Untuk kawasan hutan Non Konservasi luasnya sekitar 2,46 juta hektar, sedangkan untuk Kawasan Konservasi darat di P Jawa hanya sekitar 3,5 ribu kilometer persegi.
Mongabay: Anda masih terus meneliti Harimau Jawa.Apakah Harimau Jawa benar sudah punah?
Didik Raharyono : Belum. Menurut saya harimau jawa belum punah.
Feses harimau Jawa tahun 1998. Foto: Didik Raharyono
Mongabay: Apa yang menjadi alasan anda mengatakan harimau jawa belum punah?
Didik Raharyono : Sejak tahun 1997, saya menemukan langsung beberapa bukti bekas aktivitas harimau jawa berupa: jejak tapak kaki; cakaran di pohon; sampel feses harimau jawa dan rambut harimau jawa dari pohon cakaran dan sudah saya Seminarkan secara Nasional di UC UGM tahun 1998; dan menghasilkan rekomendasi untuk dilakukan PK atau peninjauan ulang atas pernyataan punah tersebut. Bahkan sampai sekarang saya malah mendapatkan sekitar 20-an titik informasi terbaru tentang eksistensi harimau jawa, terutama setelah saya membuat blog: Javan Tiger Center’s Blog.
Tahun 2004 kami menjumpai juga feses harimau jawa dengan diameter sekitar 7 cm dan tahun 2006 ada kesaksian perjumpaan dari TNI. Tahun 2008 saya menemukan sampel kulit harimau loreng yang dibunuh dari Jawa Tengah. Tahun 2008 juga menjumpai sisa kuku yang masih ada darahnya milik harimau Jawa yang dibunuh dari jawa barat, bahkan tahun 2009 saya mendapatkan sampel kulit lagi yang dibunuh dari Jawa timur. Secara mikroskopis, untuk rambutnya sudah menunjuk ke harimau loreng bukan tutul; tetapi perlu analisis lebih lanjut ke tingkat DNA, yang saat ini sedang kami persiapkan Bahkan dua minggu lalu rekanan yang dari Jawa Timur juga menginformasikan lagi tentang kulit dan rambut kumis dari harimau Jawa yang dibunuh Desember 2012. Sedangkan untuk informasi perjumpaan dan kesaksian beberapa warga masyarakat tepi hutan tentang perjumpaan dengan harimau Jawa sampai 2012 belum saya verfikasi lebih lanjut. Tahun 2004 juga ada mahasiswa Universitas Jenderal Sudirman, Puwokerto, yang melihat harimau loreng mati di lokasi desa bermainnya di Lereng Gunung Slamet, Jawa tengah. Artinya, dari sebaran (terutama spesimen) yang saya koleksi, jelas masih adanya eksistensi harimau Jawa.
Mongabay: Bagaimana peran pemerintah dalam melindungi karnivora Jawa selama ini?
Didik Raharyono : Menurut saya masih kurang peduli. Salah satu contoh dimana tahun 2009 Macan tutul Jawa masuk ke dalam 17 jenis prioritas satwa konservasi karena mempunyai status, justru tahun 20012 kemarin, macan tutul dikeluarkan dari prioritas konservasi, sehingga hanya ada 14 jenis saja (namun saya kurang hafal jenis-jenisnya).  Meskipun pemerintah memiliki Taman Nasional dan Balai Konservasi Sumber Daya Alam; namun “greget” untuk perlindungan spesies jauh dari yang diharapkan. Sedangkan BKSDA juga kurang berminat melindungi macan tutul yang berada di luar kawasan konservasi: hal ini terbukti dengan tidak adanya data populasi macan tutul di luar kawasan konservasi seperti hutan lindung dan cagar alam.
Platter cast harimau Jawa tahun 1997. Foto: Didik Raharyono
Mongabay: Apa yang bisa dilakukan pemerintah untuk menjaga populasi karnivor dan hutan di Jawa ?
Didik Raharyono : Pendataan karnivora harus dilkukan di kawasan konservasi dan non konservasi, lalu melakukan pembinaan habitat dengan melakukan kajian ‘daya dukung habitat’; serta patroli rutin untuk mencegah adanya perburuan jenis prey carnivor (sebab ini merupakan sumber pakan spesies karnivor). Baru setelah itu dilakukan pola pengelolaan spesies secara menyeluruh dengan melakukan koneksitas informasi dan data dalam pengelolaan yang lebih menyeluruh.
Selain itu dikarenakan opini “PUNAH” sudah melekat kuat di kalangan pemerintah, sehingga selalu menganggap bahwa masyarakat tidak bisa membedakan antara macan tutul dengan macan loreng, sebab dalam kosakata masyarakat Jawa memang hanya di kenal kata Macan untuk menyebut “Tiger” dan “Leopard.” Kata penjelasnya hanya setelah dibelakang kata macan itu yakni loreng, tutul, ataupun rembah dan lainnya. Sehingga dianggap bias jika masyarakat bertutur perihal macan loreng. Mungkin pemerintah harus mau bersama masyarakat lokal yang memiliki profesi sebagai “pemanen hasil hutan” melakukan kajian bersama atas lokasi-lokasi yang dilaporkan dilihat harimau jawa, dipantau menggunakan kamera trap, kalau perlu memberikan pinjaman terhadap masyarakat untuk melakukan pemasangan kamera itu, di lokasi di mana harimau Jawa pernah di jumpai.


Sumber
( Label: , , , , ) Read more

Sabtu, 07 Desember 2013

0 komentar

Hewan bertubuh unik

kelinci anggora

Kelinci anggora, hewan yang berasal dari Ankara Turki ini memiliki bulu yang sangat tebal dan lembut. Sehingga mirip sekali dengan boneka.  Kelinci angora juga termasuk penghasil benang wol karena bulunya yang sangat tebal seperti kambing.

 
Dumbo Octopus
Dumbo Octopus, hewan yang memiliki banyak tentakel ini mempunyai telinga yang sangat menonjol seperti sirip ikan dikepalanya.  Dan hewan ini hanya ditemukan pada kedalaman laut 500- 700 M di samudra Atlantik.
 
Tokek Setan Ekor Merah
Tokek Setan Ekor Daun, hewan berkaki empat ini memiliki tanduk dikepala dengan matanya  yang berwarna merah seperti menegaskan akan namanya Tokek Setan. Hewan ini berukuran 9 CM yang dapat berkamuplase sesuai dengan tempatnya berada. Hewan ini ditemukan di Afrika Tengah dan Timur.
 
Ulat Kucing
Ulat Kucing, hewan melata  ini adalah hewan yang paling beracun di dunia yang ditemukan di Amerika bagian Selatan. Ulat ini memiliki bulu- bulu yang sangat tebal dan halus  menyerupai bulu- bulu pada kucing angora.
 
Ikan Kelelawar
Ikan kelelawar. Spesies ikan ini mempunyai keunikan antara lain berbibir tebal seperti memakai lipstick, dan mempunyai hidung yang panjang dan runcing seperti tanduk.  Ikan ini hanya ditemukan di perairan Kostarika dan Galapagos.
 
Ikan Buntal
Ikan Buntal. Keunikan ikan ini yaitu dapat menelan air dan udara yang membuatnya kembung seperti bola. Dan ikan ini sangat beracun apabila dimakan.
 
Kepiting Yetti
Kepiting Yetti, dinamakan kepiting yeti karena kepiting ini hidup di salju dan memiliki warna putih dan berbulu. 


Sumber
( Label: , , , ) Read more

Sabtu, 12 Oktober 2013

0 komentar

Hewan Amphibi Terlangka

Katak dikenal sebagai binatang amfibi yang dapat hidup di dua alam, yaitu di darat dan di air. Dilansir dari situs National Geographic.com, dikatakan ada 10 jenis katak yang dicurigai telah punah dari bumi. Dan baru-baru ini dugaan itu terjawab, masih ada dua spesies yang masih hidup dan salah satunya berhabitat di Kalimantan Indonesia. Apa saja 10 spesies katak itu, berikut kami paparkan :

10.Katak Emas


Katak Emas. Katak ini terlihat terakhir kalinya di Costa Rica pada tahun 1989. Kehilangan katak ini
dimungkinkan karena kekeringan dan serangan jamur Chytrid. Untuk itu International Conservation dan International Union For Conservation of Nature (IUCN) melakukan penelitian untuk kembali menemukan katak emas ini.

9.Katak Lambung


Katak Lambung. Katak lambung ini adalah katak asli dari Australia. Memiliki nama ilmiah Rheobatrachus vitellinus. Katak ini sungguh unik karena katak betina akan menelan telur yang sudah dibuahi kedalam perutnya kemudian membesarkan sang anak di mulutnya, sehingga seolah-olah katak ini melahirkan anak dari mulutnya. Terakhir terlihat di tahun 1985. Diduga punah akibat serangan jamur Chytrid.

8.Katak Berparuh Mesopotamia


Katak Berparuh Mesopotamia. Terakhir terlihat di tahun 1914. Belum pernah ada yang mendokumentasikan melalui foto. Dicurigai masih hidup dan berhabitat terisolasi di Kolombia, untuk itu katak ini termasuk dalam daftar pencaharian oleh IUCN.

7.Katak Bolitoglossa jacksoni


Bolitoglossa jacksoni. Katak salamander yang dapat memanjat ini diduga telah hilang dari Guatemala dan terakhir terlihat di tahun 1975. Katak salamander yang mempunyai corak kulit kuning dan hitam pada punggungnya. Diduga menghilang karena peningkatan lahan pertanian dan pemukiman di Guatemala sehingga membuat wilayah hidupnya menghilang. Saat ini IUCN dan San Carlos University , Guatemala telah melakukan pencaharian besar atas katak salamander ini.

6.Katak Callizalus pictus laurent


Callizalus pictus laurent . Katak ini memiliki habitat di sekitar Kongo dan Rwanda. Memiliki badan sekitar 37 mm untuk jantan dan 43 untuk betina. Hidup di hutan bambu dataran tinggi Itombwe. Karena perubahan iklim yang sangat drastis membuat katak ini menghilang , dan terakhir masih dapat di lihat di tahun 1950.

5.Katak Rio Pescado


Katak Rio Pescado Stubfoot atau Atelopus balios. Dinyatakan menghilang karena terakhir terlihat di bulan april 1995. Diduga jamur Chytrid yang membuatnya menghilang dari peredaran binatang. Selain itu degrasi dan hilangnya tanah habitat makin menyulitkan kehidupan katak ini. Spesies Atelopus balios tinggal di bantaran sungai dan hutan hujan dataran rendah di barat daya Ekuador. Diperkirakan popolasinya menurun hingga lebih dari 80% selama tiga generasi ini. Namun pada September 2010 spesies ini kembali ditemukan Eduardo Toral-Contreras dan Elicio Tapia.

4.Katak Hynobius turkestanicus


Hynobius turkestanicus atau Turkestanian Salamander. Pengetahuan akan katak ini sangat minim. Diketahui hanya ada dua spesies sejak di tahun 1909. Kemungkinan memiliki habitat di Kyrgyzstan, Tajikistan atau Uzbekistan. Berdasarkan informasi dari Conservasi Internasional jenis katak ini memiliki fungsi sebagai hewan penjaga kebersihan ekosistem air tawar dan pengontrol kuman penyakit di air, sebagai salah satu kemungkinan sebagai obat penghilang rasa sakit bagi manusia.

3.katak scarlet


Atelopus sorianoi atau katak scarlet memiliki warna orange yang menyala di tubuhnya. Hidup di hutan terisolasi, Paramito de San Francisco, dekat kota Guaraque di barat daya Venezuela. Terakhir terlihat di tahun 1990.

2.Hula Painted Frog


Discoglossus nigriventer atau Hula painted frog memiliki habitat di dua daerah di pantai timur danau Huleh, Israel dan kemungkinan juga di daerah berdekatan Suriah. Status terakhir terlihat di tahun 1955. Dikatakan menghilang karena habitatnya di danau rawa-rawa Huleh pada tahun 1950an di kuras untuk membasmi nyamuk malaria dan tanah pertanian.

1.Katak Pelangi


Katak Pelangi Borneo atau Sambas Streaming Toad atau dikenal dengan nama ilmiah Ansonia latidisca. Terakhir terlihat di tahun 1950an. Habitatnya di pulau Kalimantan yaitu Gunung Damus, Kalimantan (Indonesia), dan Gunung Penrissen, di barat Sarawak (Malaysia). Katak ini memiliki badan yang panjang, berkulit kasar seperti berkerikil dan berwarna seperti pelangi antara merah cerah, hijau, kuning dan ungu. Menurut ahli amfibi Robin Moore katak ini beracun dan memiliki warna kulit cerah sebagai bentuk penyesuaian dengan menyamar seperti warna sekitarnya. Pencarian dilakukan oleh konservasi internasional dan Universitas Malaysia di hutan pengunungan Sarawak yang terletak antara wilayah Sarawak dan Kalimantan Barat. Dan ditahun 2011 ini katak itu telah ditemukan kembali . Dengan penemuan Katak Pelangi Borneo ini dapat mendorong penelitian di habitatnya dan penemuan lainnya.



( Label: , , , , , , , ) Read more

Jumat, 11 Oktober 2013

0 komentar

Fakta unik kucing

Siapa sih yang tidak mengenal dengan makhluk nan gemes ini. Mulai dari kucing kampung yang sering nyolong ikan asin hingga kucing model persia yang dimanja dan sering pergi ke salon. Perilakunya pun sangat menggemaskan. Hewan ini sangat kooperatif dengan manusia. Namun ternyata dibalik lucu dan gemesnya makhluk ini, ternyata menyimpan satu potensi bahaya yang cukup besar. Si puss ini ternyata bisa menjadi media yang tepat dalam menyebarkan sejumlah bibit penyakit dan virus. Mulai dari tokso hingga yang namanya rabies yang sangat mengerikan. Untuk menambah pengetahuan kita semua, berikut ini adalah sejumlah fakta unik yang patut kita simak:
1. Tahukah kamu, kucing (Felis silvestrid-catus), terutama kucing rumah adalah salah satu hewan predator paling hebat di dunia. Kucing ini mampu membunuh dan atau memakan beberapa ribu species, mengalahkan kucing besar (seperti singa, harimau, dan sejenisnya) yang hanya mampu memangsa kurang dari 100 species. Namun karena ukurannya terbilang kecil, maka tidak berbahaya bagi manusia (syukurlah...). Namun tetap saja sangat berbahaya apabila kucing ini terinfeksi rabies.
2. Kucing telah berasosiasi dengan kehidupan manusia sekurangnya sejak 3500 tahun yang lalu. Ketika itu orang Mesir kuno telah menggunakan kucing untuk mengusir hama tikus dan hewan pengerat lainnya dari hasil panen mereka. Namun, percaya atau tidak, di dunia ini hanya terdapat 1% populasi kucing di dunia yang termasuk galur murni atau kucing ras. Sisanya adalah kucing hasil pencampuran dari berbagai ras atau biasa yang kita sebut sebagai kucing kampung. Karena itu, kucing ras termasuk kucing yang paling sering dicari dan mahal harganya.
3. Di Indonesia, suara kucing sering ditulis dengan kata "Meong". Dalam bahasa Inggris yang digunakan di Amerika, suara kucing sering ditulis dengan "Meow". Di negara Inggris sendiri, suara kucing ditulis "Miaow". Kalau bahasa Jepang sering ditulis dengan kata "Nya".
4. Kucing biasanya memiliki berat badan antara 2,5 hingga 7 kg dan jarang melebihi 10 kg, kecuali diberi makan berlebih, si pussy bisa mencapai berat badan 23 kg. Dalam penangkaran, kucing dapat hidup selama 15 hingga 20 tahun, dimana kucing tertua pernah diketahui berusia 36 tahun! Kucing liar yang hidup di lingkungan urban modern hanya mampu hidup selama 2 tahun atau bahkan kurang dari itu.
5. Kucing termasuk hewan yang sangat bersih. Mereka sering merawat diri dengan menjilati rambut mereka. Saliva atau air liur mereka adalah agen pembersih yang kuat. tapi dapat memicu alergi pada manusia. Kadangkala kucing memuntahkan semacam hairball atau gulungan rambut yang terkumpul di dalam perutnya. Sementara itu kucing dapat menyimpan energi dengan cara tidur lebih sering ketimbang hewan lain. Lama tidur kucing bervariasi antara 12 - 16 jam per hari, dengan angka rata-rata 13 - 14 jam. Tapi tidak jarang dijumpai kucing yang tidur selama 20 jam dalam satu hari!

6. Percaya atau tidak, di abad pertengahan kucing dianggap berasosiasi dengan penyihir dan sering dibunuh dengan cara dibakar dan dilempar dari tempat tinggi. Sejumlah ahli sejarah percaya bahwa wabah Black Death atau wabah pes menyebar dengan cepat di Eropa pada abad ke-14 akibat tahyul itu. Hal itu disebabkan banyaknya pembunuhan kucing yang dilakukan sehingga meningkatkan populasi tikus yang membawa wabah pes tersebut.

Sumber
( Label: , , , , , , ) Read more

Kamis, 03 Oktober 2013

0 komentar

Hewan Paling Berisik

10. ALLIGATOR

Secara teknis, buaya memang tidak memiliki pita suara, tapi satu hal yang mengejutkan adalah, hal ini tidak mencegah mereka dari membuat kegaduhan. Buaya mendesis, mendengus, batuk, menggeram dan, yang paling terkenal, di bawah air, membuat suara infrasonic yang menimbulkan gulungan air kecil di permukaan, membuatnya bergetar atau “berdansa.” Meskipun frekuensi yang dihasilkan terlalu rendah bagi manusia untuk mendengar, namun suara tersebut dapat mencapai jarak jauh untuk menjangkau calon pasangan.

9. KAKAPO
  
Sejenis burung kiwi besar ini adalah hewan asli Selandia Baru dan bekerja sangat keras pada musim kimpoi. Kakapos jantan akan menciptakan semacam amfiteater di lingkungan mereka sendiri. Yang terakhir, Kakapo akan berdeham, mengembang kantung udara di dadanya, kemudian melepaskan suara beresonansi tinggi yang dapat didengar sampai tiga mil jauhnya! Ia meneruskan ritual setiap malam selama empat bulan, memompa keluar hingga 10.000 panggilan.

8. WOLF
  
Jika Anda pergi berkemah di belantara Minnesota dan anda terganggu oleh jeritan serigala, jangan panik, meskipun hal itu mungkin terdengar mengerikan, serigala itu mungkin berada 10 mil jauhnya. Sebuah lolongan serigala dapat mengidentifikasi satu sama lain dari jarak jauh hanya dengan panggilan mereka sendiri. Ketika mereka sedang melakukan paduan suara, hal itu dimaksudkan agar para pemangsa tidak dapat menebak berapa banyak serigala yang akan mereka hadapi? Apakag 1 atau bahkan 100?

7. HOWLER MONKEY
  
Rahasia di balik suaranya yang melengking adalah kantung pada tenggorokan monyet, yang berisi kantong khusus pada kotak suara yang menguatkan dengan panggilan untuk menakut-nakuti orang lain dari wilayahnya dan jauh dari pohon buah-buahan berharga. Nah, itu monyet yang benar-benar menyukai buahnya pohon!

6. ELEPHANT
  
Masuk akal bahwa tanah terbesar di dunia bukan hanya hewan beratnya satu ton, tetapi membuat satu ton suara juga. Gajah menggunakan lebih dari 25 panggilan yang berbeda. Batangnya bertindak sebagai semacam ruang beresonansi, pengeras suara meledak keluar dari paru-paru besar. Gajah juga dapat berkomunikasi jarak jauh dengan bantuan Infrasonik – frekuensi rendah, sub-sonik gemuruh yang sebenarnya dapat dirasakan melalui kulit sensitif gajah pada kaki dan bagasi. Ada kesempatan untuk pergi tuning satu sama lain.

5. CICADA
Para jangkrik mungkin hanya 1 atau 2 inci, tapi dengan “lagu” yang dapat menekan 120 desibel, itu juga mudah serangga yang paling keras di dunia. Bug ini layak tumpukan tiket untuk mengganggu perdamaian, yang datang sebagai akibat dari keras memeras noisemakers, yang disebut timbals, yang terletak di basis perut. Tidak simbal, timbals – dan kontrak mereka super-cepat menciptakan sit-up dengan suara yang mengingatkan kita pada gergaji pada kecepatan penuh. Kebisingan memang memiliki arti: itu adalah perkimpoian laki-laki panggilan, dan lebih dari 250 jenis jangkrik setiap memainkan lagu mereka sendiri. Jadi, jika Anda sudah mencari lagu pendek yang sempurna untuk men-download ke MP3 player, di sini ada 250 ide!

4. BAT
  
Ketika jeritan kelelawar kepala lepas, bukan hanya melakukan yang terbaik Naomi Campbell peniruan, tetapi melibatkan sistem GPS internal juga. Bernada tinggi suara bertindak sebagai sonar kelelawar untuk membantu menemukan jalannya dalam gelap, dan itu membuat untuk peta yang cukup baik. Sonarnya begitu tepat, kelelawar dapat membedakan antara benda-benda yang hanya terpisah sejauh lebar rambut manusia, terlepas dari pencahayaan. Catatan untuk diri sendiri: tidak pernah bermain “Pin the Tail pada Keledai” dengan kelelawar.

3. HERRING
  
Ya, ikan haring memancarkan gas dari pantat mereka untuk berbicara dengan satu sama lain serta menakut-nakuti predator, tapi pada frekuensi terlalu rendah bagi manusia yang pernah mendengar. Jika itu terdengar kepada kami, itu akan terdengar seperti jet lepas landas – agak sulit untuk berpura-pura seperti itu hanya sepatu Anda, ya?

2. WHALE
  
Paus dapat berteriak di seberang lautan – secara harfiah. Yah, setidaknya dapat ikan paus biru, dengan bersin yang dapat didengar di sisi lain dunia. The bungkuk menang “Kebanyakan Chatty,” dengan lagu-lagu berlangsung hingga setengah jam dan membawa lebih dari 100 mil jauhnya. Paus sperma bahkan menggunakan suara untuk berburu dalam kegelapan kedalaman dasar laut, menyelam dan navigasi seperti kelelawar dengan sinyal sonar yang dapat ditembak dengan kekuatan untuk melumpuhkan meriam cumi-cumi. Itu beberapa pistol setrum!

1. PISTOL SHRIMP
  
Sebuah udang yang menghancurkan kaca hanya dengan snap pasti layak Nomor 1 di daftar “Loudmouths”. Ditemukan di karang tropis di seluruh dunia, udang pistol dilengkapi dengan, yah, pistol, dalam bentuk cakar besar yang keluar tunas semburan air. Air sungai bergerak dengan kecepatan seperti itu menciptakan gelembung udara. Setelah granat implodes kecil ini, itu bungkus pukulan hebat, menciptakan gelombang kejut yang besar ikan paus lebih keras daripada panggilan yang dapat membunuh ikan dan udang lainnya hingga 6 meter jauhnya. Snap the sonic juga memancarkan kilatan cahaya kecil, yang sesaat menyebabkan suhu di dalam gelembung melambung lebih dari 8.500 derajat Fahrenheit – yang merupakan salah satu kompor panas Anda tidak ingin menyentuh!
 
 
 
( Label: , , , , , ) Read more

Rabu, 02 Oktober 2013

0 komentar

Gagak wariskan dendam pada anaknya

Sebuah penelitian yang dilakukan selama 5 tahun terhadap gagak-gagak yang tinggal di kawasan Seattle, Washington, Amerika Serikat menunjukkan bahwa burung gagak bisa mengingat mana ‘manusia yang berbahaya’ bagi keselamatannya.


Hebatnya, burung ini bisa memberitahukan informasi ini pada anak-anaknya serta gagak-gagak lain.

Menurut John Marzluff, profesor dari University of Washington, kemampuan ini telah membantu spesies itu beradaptasi dengan sukses serta berkembang biak bersama dengan manusia.

“Perilaku setiap individu manusia terhadap hewan sangat berbeda dan berubah-ubah,” kata Marzluff, seperti dikutip dari ABC, 30 Juni 2011. “Berhubung manusia sering hadirkan ancaman bagi hewan, kemampuan mempelajari perilaku sosial ini sangat berguna bagi hewan,” ucapnya.

Pada percobaan, peneliti menggunakan topeng lalu menjebak, mengikat kemudian melepas 7 sampai 15 ekor burung di 5 kawasan yang berbeda di Seattle. Untuk mengetahui dampak penangkapan tersebut, selama 5 tahun kemudian, dilakukan penelitian terhadap perilaku burung itu terhadap orang-orang yang melintas di kawasan lokasi penangkapan.

Peneliti menggunakan topeng ‘penjahat’ atau topeng yang mereka pakai saat menjebak para burung. Setelah itu mereka membandingkannya dengan menggunakan topeng lain yang tidak ada kaitannya dengan penangkapan terhadap para tersebut.

Dalam 2 minggu setelah penangkapan, rata-rata 26 persen gagak ‘memarahi’ orang yang menggunakan topeng penjahat. Mereka mengganggu orang itu dengan mengepakkan sayap dan mengibaskan ekornya. Kadang, tindakan gagak yang pernah disakiti itu dibantu oleh gagak-gagak lain yang bergabung dan mengerumuni ‘penjahat’ tersebut.

Setelah lebih dari setahun, lebih dari 30 persen menyerang orang yang memakai topeng penjahat. Angkanya malah meningkat lebih dari dua kali lipat, yakni mencapai 66 persen setelah tiga tahun dari waktu penjebakan terhadap gagak.

Marzluff menyebutkan, kawasan di mana gagak menyerang manusia yang menggunakan topeng ‘penjahat’ juga semakin meluas. Namun demikian, tidak ada perubahan pada perilaku gagak terhadap manusia yang menggunakan topeng ‘baik-baik’.




Sumber
( Label: , , , , , , ) Read more

Sabtu, 28 September 2013

0 komentar

Mata burung melihat lebih banyak warna dibanding manusia



"Hal yang mengejutkan untuk disadari adalah bahwa meskipun warna burung terlihat begitu sangat beragam dan indah bagi kita, tapi kita adalah buta warna jika dibandingkan dengan burung."

Warna-warna burung yang brilian telah mengilhami penyair dan pecinta alam, namun para peneliti dari Universitas Yale dan Universitas Cambridge menyatakan bahwa warna-warna tersebut hanya mewakili sebagian kecil dari apa yang mampu dilihat oleh burung.
Temuan ini didasarkan pada studi sistem visual burung, dilaporkan dalam jurnalBehavioral Ecology edisi 23 Juni, menunjukkan bahwa selama jutaan tahun evolusi, warna bulu berangkat dari warna yang suram hingga menjadi warna terang seiring burung secara bertahap memperoleh kemampuan untuk membuat pigmen baru dan struktural warna.
“Pakaian kita warnanya cukup menjemukan sebelum adanya penemuan pewarna anilin, tapi kemudian warna menjadi murah dan terjadi ledakan pakaian warna-warni yang kita pakai saat ini,” kata Richard Prum, kepala dan Profesor William Robertson Coe di Departemen Ornitologi, Ekologi dan Biologi Evolusi, yang juga adalah penulis pendamping dalam makalah studi. “Hal yang sama sepertinya telah terjadi pula pada burung.”
Selama bertahun-tahun para ilmuwan telah berspekulasi bagaimana burung memperoleh warna mereka, namun studi Yale/Cambridge merupakan yang pertama yang mempertanyakan apakah keragaman warna burung sebenarnya terlihat oleh burung itu sendiri. Ironisnya, jawabannya adalah bahwa burung melihat warna yang lebih banyak dari manusia, dan burung pun mampu melihat warna yang lebih banyak lagi dari apa yang mereka miliki pada bulu mereka. Burung memiliki kerucut warna tambahan di retina mereka yang sensitif terhadap kisaran ultraviolet sehingga mereka melihat warna-warna yang tak terlihat oleh manusia.
Seiring waktu, burung telah mengevolusikan kombinasi warna yang mempesona termasuk berbagai pigmen melanin (pigmen yang memberi warna pada kulit manusia), pigmen karotenoid (pigmen yang berasal dari pola makan mereka), dan warna struktural, contohnya seperti mata biru pada manusia. Studi ini menunjukkan bahwa warna struktural menghasilkan bagian terbesar dari keanekaragaman warna pada bulu burung, meskipun relatif jarang di kalangan burung.
Penulis pendamping Maria Caswell Stoddard dari Cambridge, yang mulai meneliti sistem visual burung saat sebagai sarjana di Yale, ingin tahu mengapa burung belum mengembangkan kemampuan untuk memproduksi, misalnya, warna kuning atau merah ultraviolet pada bulu mereka – warna-warna yang tak terlihat oleh manusia tapi terlihat oleh burung sendiri.
“Kami tak tahu mengapa warna bulu terbatas pada subset ini,” kata Stoddard. “Keluar dari warna gamut mungkin mustahil untuk dibuat dengan mekanisme yang tersedia atau mungkin itu merugikan.”
“Itu tidak berarti bahwa palet warna pada burung akhirnya mungkin tidak berkembang pada perluasan ke warna baru,” kata Prum.
“Burung hanya bisa membuat sekitar 26 hingga 30 persen dari warna yang mampu mereka lihat namun mereka telah bekerja keras selama jutaan tahun untuk mengatasi keterbatasan ini,” kata Prum. “Hal yang mengejutkan untuk disadari adalah bahwa meskipun warna burung terlihat begitu sangat beragam dan indah bagi kita, tapi kita adalah buta warna jika dibandingkan dengan burung.”
 
( Label: , , , , ) Read more

Selasa, 24 September 2013

0 komentar

Hewan Pemakan Bangkai Didasar Laut

Keanekaragaman hayati di tempat ekstrim termasuk daerah yang jarang diteliti. Tapi kita sudah cukup paham beberapa hal. Berikut tentang kehidupan dasar laut.

Ada sebuah pertanyaan, bagaimana mahluk scavenger (pemakan bangkai) di dasar samudera dapat bertahan hidup dengan begitu sedikitnya makanan yang bisa sampai ke lantai laut?


http://i50.tinypic.com/6xxitj.jpg
Coelacanth

Coba kita bayangkan, saat seekor ikan tuna mati di samudera, bangkainya mungkin tidak akan sempat ke dasar. Di tengah jalan, ia dapat disambar oleh koloni ikan dan habislah harapan para penunggu di dasar laut.

Untuk memahami hal ini, mari kita bayangkan dasar lautan sebagai sebuah tiang. Permukaan laut sebagai puncak tiang, sementara pangkal yang tertancap di lantai adalah dasar lautan. Apa yang akan kita temukan pada tiang ini?

Pertama, yang mungkin langsung kita kenali adalah jumlah hewan juga semakin sedikit. Aldea et al (2008) misalnya, menemukan kalau semakin dalam semakin sedikit jenis kerang (gastropoda dan bivalvia).

Ada sebuah keseimbangan. Banyak yang mati, tapi sedikit yang dikubur. Dan karenanya, sedikit pula yang menunggu di kuburan.

Tampaknya masalah kita telah terjawab. Hewan yang tinggal di dekat permukaan justru terlalu banyak jika saat mereka mati, tubuh mereka tenggelam hingga ke dasar.

Kenyataannya, Drazen (2002) menemukan kalau ikan scavenger di dasar laut, sama sekali tidak terpengaruh oleh variasi jumlah hewan yang tenggelam. Baik ada 1000 ekor ataupun hanya 20 ekor yang sampai ke dasar, ikan-ikan ini tidak menjadi tamak ataupun menjadi irit makanan. Keseimbangan sepertinya sangat kuat di dasar samudera.

Para hewan dasar laut hidup tenang dan bersahaja. Hampir semua bahkan justru merasa tersiksa kalau naik mendekati permukaan. Sebagai contoh, larva Echinus echinus tidak akan dapat berkembang kalau tekanannya tidak seperti di dasar laut (Tyler dan Young, 1998).

Kelihatannya seperti itu, adem ayem. Tapi tunggu dulu. Tidak semudah itu. Beberapa siluman dasar laut seringkali berpatroli menghajar penduduk. Ya, predasi tetap terjadi di dasar samudera.

Kemp et al (2006) memburu para siluman ini tanpa hasil. Dan merekapun menisbahkan menurunnya jumlah kepiting scavenger (Munidopsis crassa) pada siluman dasar laut bernama Benthoctopus sp, gurita dasar laut. Tapi jangan senang hati dulu kalau Pirates of Carribean mendadak jadi  kenyataan.


Kepiting scavenger, Munidopsis

Benthoctopus bukanlah gurita yang besar. Seperti penghuni dasar laut lainnya, ia bertubuh kecil (Polloni et al, 1979). Walau kecil, ia cukup mampu memangsa kepiting yang lengah.


Gurita dasar laut, Benthoctopus sp
Dasar laut dipenuhi oleh para scavenger, sedikit predator dan beberapa spesies yang tidak jelas. Dikatakan tidak jelas karena kita belum dapat menentukan apakah ia scavenger atau predator, atau lainnya. Ilmuan sangat berhati-hati dalam menggolongkan hewan dasar laut.

Britton dan Morton (1994) misalnya, tidak mau mengakui kalau sebuah hewan merupakan scavenger jika ia tidak melihat langsung hewan tersebut mendekati bangkai atau memakan bangkai.

Bulu babi dasar laut, Echinus

Mungkin kita terlalu buru-buru mengatakan kalau hewan di dasar laut semuanya kecil, gepeng dan konyol. Survey dasar laut, terutama daerah yang topografinya bergerigi, sulit dilakukan, sehingga walaupun dasar laut Hawaii dalamnya lebih dari 4000 meter, hanya 2000 meter saja kemampuan para peneliti untuk mencapainya (Borets, 1986).

Dan benarlah kiranya kalau kita terburu-buru. Sebagian besar ikan scavenger, justru semakin besar ukurannya saat semakin ke dasar samudera. Ini pula yang membuat Anderson (2005) curiga kalau Symenchelys parasitica, bukanlah scavenger. Ikan ini unik karena ukurannya justru mengecil saat laut semakin dalam. Analisa isi perut menunjukkan kalau ia memang scavenger.

Beberapa berpendapat kalau hewan dasar laut sebenarnya biasa saja. Tidak ada ukuran yang lebih besar atau lebih kecil. Kebetulan saja, sampel yang kita peroleh di permukaan adalah anak ikan, sementara di dasar adalah bapaknya ikan atau mbah nya ikan.

Metode penelitian dasar laut umumnya menggunakan kamera yang mengeluarkan cahaya yang menarik ikan. Anak ikan, paling tidak dalam penelitian Raymond dan Widder (2007) terbukti tidak suka dengan gemerlap kehidupan malam (well, di dasar laut selalu tengah malam anyway).

Jadi spesies yang dapat ditangkap di dasar laut hanyalah mbahnya ikan, walaupun anak dan cucunya mungkin sedang asyiknya bermain.


Cumi dengan mata di ujung tentakel

Saat kita berbicara tentang keanekaragaman spesies, tampaknya kita harus menerima penelitian Carney (2005) kalau hewan di dasar laut hampir merupakan kebalikan dari hewan di dekat permukaan laut.

Kita salah memandang lautan sebagai sebuah tiang ataupun sebuah piramida terbalik, kita seharusnya memandang lautan sebagai dua piramida, satu terbalik dan satu lagi tegak.

Masalahnya apakah dua piramida ini berdampingan, saling bertemu alas, atau saling bertemu puncak. Rex (1981) sudah menunjukkan kalau keanekaragaman hayati akan paling banyak di kedalaman menengah. Kedua alas piramidanya bertemu sehingga seperti intan.


Ikan laut dalam
 
Sekarang kesimpulan kita adalah, saat bicara jumlah, jumlah hewan semakin ke dasar laut semakin sedikit, tapi ukurannya belum tentu. Saat bicara ukuran, beberapa spesies memang semakin mengecil, sebagian lagi justru membesar (Collins et al, 2005). Dan saat bicara keanekaragaman, maka spesies paling beraneka adalah pada kedalaman menengah.

Demikianlah evolusi membentuk kehidupan. Jika seekor spesies diberikan pilihan untuk tinggal di dasar, di tengah atau di permukaan samudera, tampaknya akan lebih mungkin kalau ia memilih hidup di dasar samudera.

Kenapa tidak, disini predator sedikit, sang predator makan secukupnya saja, kebutuhan sang spesies pun sama, dia makan dan kawin secukupnya, dan para penduduk di sini dapat hidup bermalas-malasan menanti emas turun dari langit.

Mungkin emas itu adalah seekor ikan paus, yang bisa dikonsumsi hingga 50 tahun lamanya, bisa dikatakan seumur hidup bagi hewan dasar laut. Sedikitnya tekanan seleksi alam inilah yang menjelaskan mengapa ikan purba, yang telah ada ratusan juta tahun lamanya, sang legendaris Coelacanth, tampak tidak berevolusi sama sekali.

Lalu  pertanyaannya, mengapa Coelacanth tampak tidak berevolusi. Jawabannya karena Coelacanth mengalami sedikit sekali mutasi karena ia hidup di laut dalam. Apa yang anda harap dari hewan yang hidup di gua di dasar laut?

Radiasi hampir tidak mencapainya, sehingga mutasi sangat langka. Bila mutasi saja sudah sangat langka, apa yang mau di seleksi oleh alam? Coelacanth membuktikan prediksi teori evolusi bahwa mutasi dan seleksi alam merupakan dua faktor yang membangun evolusi sehingga spesies yang tidak mengalami mutasi dan seleksi alam tidak akan berevolusi.

Sedikitnya mutasi yang dihadapi oleh Coelacanth sudah cukup untuk membedakan coelacanth modern, yang ditemukan di Sulawesi dan coelacanth purba, yang ada di fosil, memiliki perbedaan fenotipe.

Spesies yang hidup merupakan famili Latimeridae sementara coelacanth purba merupakan famili coelacanthidae. Perbedaan ini terletak pada perbedaan ukuran, fosil coelacanthidae lebih kecil daripada latimeridae.

Selain itu, beberapa struktur internal latimeridae tidak ditemukan pada fosil coelacanthidae. Terlebih lagi, sisik cosmoid pada spesies modern lebih tipis dan termodifikasi dibandingkan sisik purba pada fosil yang ternyata lebih tebal.

Namun yang lebih nyata ada pada sirip. Sirip latimeridae ternyata telah sangat termodifikasi. Fosil coelacanthidae sayangnya tidak lengkap. Siripnya tidak ikut menjadi fosil sehingga ilmuan tidak tahu.

Untungnya, satu spesies fosil coelacanth baru ditemukan, dan dinamai Shoshonia arctoperyx. Menurut para penemunya, Friedman et al (2007) fosil sirip coelacanth ini sangat berbeda dengan sirip Latimeria.

Zimmer (2007) membuat gambar berikut untuk mengilustrasikannya, perhatikan perbedaan sirip tersebut. Zimmer bahkan mengatakan kalau status fosil hidup pada Latimeria sudah tidak pantas lagi disandangnya, hewan ini terlalu banyak berubah dari leluhurnya di masa lalu.

http://www.faktailmiah.com/wp-content/uploads/2010/07/evolusi-sirip.jpg
Perhatikan sirip Latimeria dan Soshonia di ruas kiri (credit: Zimmer, 2007)

Pertanyaan lain, kenapa ikan dasar laut dikatakan hemat padahal sudah jelas ikan ini tamak. Beberapa bahkan memakan mangsa yang ukurannya lebih besar dari dirinya sendiri, dalam sekali telan.

Ini tentunya salah kaprah, karena ikan demikian ada di antara permukaan laut dan dasar laut, bukannya di dasar laut. Ikan tersebut hanya berada di laut dalam tapi belum cukup dalam untuk sampai ke dasarnya.
 
 
 
( Label: , , , , , ) Read more
Best viewed on firefox 5+
Frafiez Family © 2009 - 2014. Keep Cheerful for Shared