
Didik Raharyono, peneliti karnivora di Jawa yang masih meyakini bahwa harimau Jawa belum punah. Foto: Tommy Apriando
Tak banyak peneliti Harimau Jawa di
Indonesia
saat ini. Bahkan pemerintah pun jarang melakukan penelitian dan
pengawasan terhadap endemik hutan Jawa ini. Kondisi hutan Jawa yang
semakin meranggas berdampak luas pada populasi karnivora Jawa ini.
Berawal dari keprihatinan ini Didik Raharyono melakukan penelitian
terhadap populasi karnivora-karnivora di Jawa. Masuk kedalam hutan Jawa
untuk memasang “
camera
Trap” sudah ia lakukan sejak puluhan tahun lalu. Pak Didik panggilan
akrabnya, masih yakin bahwa karnivora terbesar Jawa yaitu Harimau Jawa
masih ada di hutan-hutan yang ada di Jawa ini. Selain berdasar pada
keterangan dari banyak warga yang tinggal sekitar hutan di Jawa,
beberapa bukti lain, seperti feses, cakaran, kuku, bulu dan lainnya ia
dapatkan.

Spesimen sisa pembunuhan Harimau jawa dan Macan tutul koleksi 1997 – 2010. Foto: Didik Raharyono
Mongabay: Apa yang melatar belakangi anda terus melakukan penelitian terhadap Karnivora Jawa?
Didik Raharyono: Belum banyak masyarakat kita yang
memperhatikan kelestarian spesies karnivora di Jawa. Dari segi keilmuan
terhadap jenis-jenisnya dan adanya kecenderungan penyusutan hutan
sebagai habitat bagi golongan karnivora di Jawa. Sedangkan sebagian
besar Karnivora merupakan top predator yang dapat dijadikan
Bio-indikator habitat yang masih baik.
Mongabay: Apa saja karnivora endemik di Jawa ? Berapa jumlah populasi mereka?
Didik Raharyono: Harimau Jawa populasinya belum diketahui, bahkan dianggap punah; Macan tutul jawa: estimasi
meta
populasi dari sebaran habitat yang masih tersisa dari Kawasan
Konservasi maupun Non-Konservasi sampai saat ini masih sekitar 500-an
ekor (perkiraan kasar, belum dilakukan pendataan secara ilmiah). Lalu
Kucing Bakau, tetapi saya belum tahu perkiraan populasinya, sebab
spesiesini juga hampir tidak terpantau. Lalu Biul jawa juga endemik, dan
belum diketahui populasinya di alam, Sigung atau teledu juga endemik
jawa, populasinya belum diketahui.

Sisa kulit harimau Jawa yang dibunuh tahun 2008. Foto: Didik Raharyono
Mongabay: Sejak kapan anda melakukan penelitian terhadap Karnivor Jawa ? Apa saja yang anda dapatkan sampai saat ini ?
Didik Raharyono : Sejak tahun 1997 khusus untuk
harimau Jawa, lalu mulai 2003 meneliti macan tutul. Dan setelah 2006
merambah ke jenis kucing kecil. Dari pengalaman tersebut, saya
memperoleh banyak pengalaman dan pengetahuan baru yang tidak saya jumpai
saat kuliah di
Biologi UGM.
Mongabay: Karnivora Jawa tidak bisa di lepaskan dari habitanya yaitu Hutan. Bagaimana anda melihat kondisi Hutan di Jawa ?
Didik Raharyono : Karnivora memang golongan jenis
hewan yang hidupnya membutuhkan teritori. Kondisi hutan di jawa saat ini
sudah banyak terdegradasi. Hutan dataran rendah Jawa yang sebenarnya
berpotensi memiliki kekayaan hayati lebih tinggi dari pada hutan di
pegunungan, juga hampir hilang (hanya tersisa di beberapa Taman
nasional). Selain itu, untuk hutan dataran rendah telah banyak digunakan
sebagai kawasan hutan produksi yang menggunakan sistem penanaman pohon
yang sejenis. Selain itu, kondisi hutan di jawa saat ini sudah
terfragmentasi menjadi beberapa potongan, mirip kondisi kepulauan kecil
yang ada di ‘samudra’ (mengalami insularisasi). Sedangkan luas hutan di
Jawa saat ini Untuk kawasan hutan
Non
Konservasi luasnya sekitar 2,46 juta hektar, sedangkan untuk Kawasan
Konservasi darat di P Jawa hanya sekitar 3,5 ribu kilometer persegi.
Mongabay: Anda masih terus meneliti Harimau Jawa.Apakah Harimau Jawa benar sudah punah?
Didik Raharyono : Belum. Menurut saya harimau jawa belum punah.

Feses harimau Jawa tahun 1998. Foto: Didik Raharyono
Mongabay: Apa yang menjadi alasan anda mengatakan harimau jawa belum punah?
Didik Raharyono : Sejak tahun 1997, saya menemukan
langsung beberapa bukti bekas aktivitas harimau jawa berupa: jejak tapak
kaki; cakaran di pohon; sampel feses harimau jawa dan rambut harimau
jawa dari pohon cakaran dan sudah saya Seminarkan secara Nasional di UC
UGM tahun 1998; dan menghasilkan rekomendasi untuk dilakukan PK atau
peninjauan ulang atas pernyataan punah tersebut. Bahkan sampai sekarang
saya malah mendapatkan sekitar 20-an titik informasi terbaru tentang
eksistensi harimau jawa, terutama setelah saya membuat blog: Javan Tiger
Center’s Blog.
Tahun 2004 kami menjumpai juga feses harimau jawa dengan diameter sekitar 7 cm dan tahun 2006
ada
kesaksian perjumpaan dari TNI. Tahun 2008 saya menemukan sampel kulit
harimau loreng yang dibunuh dari Jawa Tengah. Tahun 2008 juga menjumpai
sisa kuku yang masih ada darahnya milik harimau Jawa yang dibunuh dari
jawa barat, bahkan tahun 2009 saya mendapatkan sampel kulit lagi yang
dibunuh dari Jawa timur. Secara mikroskopis, untuk rambutnya sudah
menunjuk ke harimau loreng bukan tutul; tetapi perlu analisis lebih
lanjut ke tingkat DNA, yang saat ini sedang kami persiapkan Bahkan dua
minggu lalu rekanan yang dari Jawa Timur juga menginformasikan lagi
tentang kulit dan rambut kumis dari harimau Jawa yang dibunuh Desember
2012. Sedangkan untuk informasi perjumpaan dan kesaksian beberapa warga
masyarakat tepi hutan tentang perjumpaan dengan harimau Jawa sampai 2012
belum saya verfikasi lebih lanjut. Tahun 2004 juga ada mahasiswa
Universitas Jenderal Sudirman, Puwokerto, yang melihat harimau loreng
mati di lokasi desa bermainnya di Lereng Gunung Slamet, Jawa tengah.
Artinya, dari sebaran (terutama spesimen) yang saya koleksi, jelas masih
adanya eksistensi harimau Jawa.
Mongabay: Bagaimana peran pemerintah dalam melindungi karnivora Jawa selama ini?
Didik Raharyono : Menurut saya masih kurang peduli. Salah satu contoh
dimana tahun 2009 Macan tutul Jawa masuk ke dalam 17 jenis prioritas
satwa konservasi karena mempunyai status, justru tahun 20012 kemarin,
macan tutul dikeluarkan dari prioritas konservasi, sehingga hanya ada 14
jenis saja (namun saya kurang hafal jenis-jenisnya). Meskipun
pemerintah memiliki Taman Nasional dan Balai Konservasi Sumber Daya
Alam; namun “greget” untuk perlindungan spesies jauh dari yang
diharapkan. Sedangkan BKSDA juga kurang berminat melindungi macan tutul
yang berada di luar kawasan konservasi: hal ini terbukti dengan tidak
adanya data populasi macan tutul di luar kawasan konservasi seperti
hutan lindung dan cagar alam.

Platter cast harimau Jawa tahun 1997. Foto: Didik Raharyono
Mongabay: Apa yang bisa dilakukan pemerintah untuk menjaga populasi karnivor dan hutan di Jawa ?
Didik Raharyono : Pendataan karnivora harus dilkukan
di kawasan konservasi dan non konservasi, lalu melakukan pembinaan
habitat dengan melakukan kajian ‘daya dukung habitat’; serta patroli
rutin untuk mencegah adanya perburuan jenis
prey carnivor
(sebab ini merupakan sumber pakan spesies karnivor). Baru setelah itu
dilakukan pola pengelolaan spesies secara menyeluruh dengan melakukan
koneksitas informasi dan data dalam pengelolaan yang lebih menyeluruh.
Selain itu dikarenakan opini “PUNAH” sudah melekat kuat di kalangan
pemerintah, sehingga selalu menganggap bahwa masyarakat tidak bisa
membedakan antara macan tutul dengan macan loreng, sebab dalam kosakata
masyarakat Jawa memang hanya di kenal kata Macan untuk menyebut “Tiger”
dan “Leopard.” Kata penjelasnya hanya setelah dibelakang kata macan itu
yakni loreng, tutul, ataupun rembah dan lainnya. Sehingga dianggap bias
jika masyarakat bertutur perihal macan loreng. Mungkin pemerintah harus
mau bersama masyarakat lokal yang memiliki profesi sebagai “pemanen
hasil hutan” melakukan kajian bersama atas lokasi-lokasi yang dilaporkan
dilihat harimau jawa, dipantau menggunakan kamera trap, kalau perlu
memberikan pinjaman terhadap masyarakat untuk melakukan pemasangan
kamera itu, di lokasi di mana harimau Jawa pernah di jumpai.
Sumber