Twitter: @Glissandio
Tampilkan postingan dengan label ikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ikan. Tampilkan semua postingan

Minggu, 22 Desember 2013

0 komentar

Ikan yang hidup di darat





  









   Sejumlah ilmuwan Australia membuat penemuan yang cukup aneh, yakni ikan yang bisa keluar dari air. Ikan yang memiliki nama ilmiah alticus arnoldorum, biasanya ditemukan hidup di air seperti ikan normal lainnya, namun ternyata saat mereka menginjak dewasa mulai menghabiskan waktunya di bebatuan.


Para ilmuwan kini menemukan bahwa ikan jenis tersebut telah bersiap-siap memasuki tahap transisi untuk hidup di daratan.
Peneliti dari Univesity of New South Wales, Dr Terry Ord dan Courtney Morgans menemukan bahwa ikan-ikan ini telah mengalami perubahan sebelum keluar dari air.
"Melihat ikan keluar dari air, kemudian ada di daratan adalah pemandangan yang tidak biasa," ujar Dr Ord. "Tapi kita temukan bahwa mereka sepertinya sudah lebih beradaptasi dengan kehidupan di daratan dari yang kita kira sebelumnya."
"Nampaknya mereka melakukan penyamaran agar tidak dimakan oleh predator, ikan di lautan juga sudah beradaptasi untuk menyamaran menghindari dari mangsa, seperti burung-burung," jelasnya.
Para peneliti ini menemukan bahwa penyamaran ini berupa perubahan warna tubuh mereka yang dicocokan dengan warna bebatuan di garis pantai Pasifik.
Dr Ord mengatakan meskipun mereka tidak hidup di air lagi, tapi secara ilmiah, mereka tetaplah ikan.
"Mereka terlihat seperti siput yang melompat-lompat di bebatuan, tetapi kalau dilihat dari dekat, mereka adalah ikan," ujarnya.
Ia juga menambahkan bahwa akan lebih banyak lagi penemuan menarik tentang ikan tersebut.
"Jika mereka adalah ikan 'darat', lantas mengapa mereka bisa berpindah dari lautan Pasifik utara ke selatan?" tanya Dr Ord.


Sumber
( Label: , , , , , , ) Read more

Selasa, 24 September 2013

0 komentar

Hewan Pemakan Bangkai Didasar Laut

Keanekaragaman hayati di tempat ekstrim termasuk daerah yang jarang diteliti. Tapi kita sudah cukup paham beberapa hal. Berikut tentang kehidupan dasar laut.

Ada sebuah pertanyaan, bagaimana mahluk scavenger (pemakan bangkai) di dasar samudera dapat bertahan hidup dengan begitu sedikitnya makanan yang bisa sampai ke lantai laut?


http://i50.tinypic.com/6xxitj.jpg
Coelacanth

Coba kita bayangkan, saat seekor ikan tuna mati di samudera, bangkainya mungkin tidak akan sempat ke dasar. Di tengah jalan, ia dapat disambar oleh koloni ikan dan habislah harapan para penunggu di dasar laut.

Untuk memahami hal ini, mari kita bayangkan dasar lautan sebagai sebuah tiang. Permukaan laut sebagai puncak tiang, sementara pangkal yang tertancap di lantai adalah dasar lautan. Apa yang akan kita temukan pada tiang ini?

Pertama, yang mungkin langsung kita kenali adalah jumlah hewan juga semakin sedikit. Aldea et al (2008) misalnya, menemukan kalau semakin dalam semakin sedikit jenis kerang (gastropoda dan bivalvia).

Ada sebuah keseimbangan. Banyak yang mati, tapi sedikit yang dikubur. Dan karenanya, sedikit pula yang menunggu di kuburan.

Tampaknya masalah kita telah terjawab. Hewan yang tinggal di dekat permukaan justru terlalu banyak jika saat mereka mati, tubuh mereka tenggelam hingga ke dasar.

Kenyataannya, Drazen (2002) menemukan kalau ikan scavenger di dasar laut, sama sekali tidak terpengaruh oleh variasi jumlah hewan yang tenggelam. Baik ada 1000 ekor ataupun hanya 20 ekor yang sampai ke dasar, ikan-ikan ini tidak menjadi tamak ataupun menjadi irit makanan. Keseimbangan sepertinya sangat kuat di dasar samudera.

Para hewan dasar laut hidup tenang dan bersahaja. Hampir semua bahkan justru merasa tersiksa kalau naik mendekati permukaan. Sebagai contoh, larva Echinus echinus tidak akan dapat berkembang kalau tekanannya tidak seperti di dasar laut (Tyler dan Young, 1998).

Kelihatannya seperti itu, adem ayem. Tapi tunggu dulu. Tidak semudah itu. Beberapa siluman dasar laut seringkali berpatroli menghajar penduduk. Ya, predasi tetap terjadi di dasar samudera.

Kemp et al (2006) memburu para siluman ini tanpa hasil. Dan merekapun menisbahkan menurunnya jumlah kepiting scavenger (Munidopsis crassa) pada siluman dasar laut bernama Benthoctopus sp, gurita dasar laut. Tapi jangan senang hati dulu kalau Pirates of Carribean mendadak jadi  kenyataan.


Kepiting scavenger, Munidopsis

Benthoctopus bukanlah gurita yang besar. Seperti penghuni dasar laut lainnya, ia bertubuh kecil (Polloni et al, 1979). Walau kecil, ia cukup mampu memangsa kepiting yang lengah.


Gurita dasar laut, Benthoctopus sp
Dasar laut dipenuhi oleh para scavenger, sedikit predator dan beberapa spesies yang tidak jelas. Dikatakan tidak jelas karena kita belum dapat menentukan apakah ia scavenger atau predator, atau lainnya. Ilmuan sangat berhati-hati dalam menggolongkan hewan dasar laut.

Britton dan Morton (1994) misalnya, tidak mau mengakui kalau sebuah hewan merupakan scavenger jika ia tidak melihat langsung hewan tersebut mendekati bangkai atau memakan bangkai.

Bulu babi dasar laut, Echinus

Mungkin kita terlalu buru-buru mengatakan kalau hewan di dasar laut semuanya kecil, gepeng dan konyol. Survey dasar laut, terutama daerah yang topografinya bergerigi, sulit dilakukan, sehingga walaupun dasar laut Hawaii dalamnya lebih dari 4000 meter, hanya 2000 meter saja kemampuan para peneliti untuk mencapainya (Borets, 1986).

Dan benarlah kiranya kalau kita terburu-buru. Sebagian besar ikan scavenger, justru semakin besar ukurannya saat semakin ke dasar samudera. Ini pula yang membuat Anderson (2005) curiga kalau Symenchelys parasitica, bukanlah scavenger. Ikan ini unik karena ukurannya justru mengecil saat laut semakin dalam. Analisa isi perut menunjukkan kalau ia memang scavenger.

Beberapa berpendapat kalau hewan dasar laut sebenarnya biasa saja. Tidak ada ukuran yang lebih besar atau lebih kecil. Kebetulan saja, sampel yang kita peroleh di permukaan adalah anak ikan, sementara di dasar adalah bapaknya ikan atau mbah nya ikan.

Metode penelitian dasar laut umumnya menggunakan kamera yang mengeluarkan cahaya yang menarik ikan. Anak ikan, paling tidak dalam penelitian Raymond dan Widder (2007) terbukti tidak suka dengan gemerlap kehidupan malam (well, di dasar laut selalu tengah malam anyway).

Jadi spesies yang dapat ditangkap di dasar laut hanyalah mbahnya ikan, walaupun anak dan cucunya mungkin sedang asyiknya bermain.


Cumi dengan mata di ujung tentakel

Saat kita berbicara tentang keanekaragaman spesies, tampaknya kita harus menerima penelitian Carney (2005) kalau hewan di dasar laut hampir merupakan kebalikan dari hewan di dekat permukaan laut.

Kita salah memandang lautan sebagai sebuah tiang ataupun sebuah piramida terbalik, kita seharusnya memandang lautan sebagai dua piramida, satu terbalik dan satu lagi tegak.

Masalahnya apakah dua piramida ini berdampingan, saling bertemu alas, atau saling bertemu puncak. Rex (1981) sudah menunjukkan kalau keanekaragaman hayati akan paling banyak di kedalaman menengah. Kedua alas piramidanya bertemu sehingga seperti intan.


Ikan laut dalam
 
Sekarang kesimpulan kita adalah, saat bicara jumlah, jumlah hewan semakin ke dasar laut semakin sedikit, tapi ukurannya belum tentu. Saat bicara ukuran, beberapa spesies memang semakin mengecil, sebagian lagi justru membesar (Collins et al, 2005). Dan saat bicara keanekaragaman, maka spesies paling beraneka adalah pada kedalaman menengah.

Demikianlah evolusi membentuk kehidupan. Jika seekor spesies diberikan pilihan untuk tinggal di dasar, di tengah atau di permukaan samudera, tampaknya akan lebih mungkin kalau ia memilih hidup di dasar samudera.

Kenapa tidak, disini predator sedikit, sang predator makan secukupnya saja, kebutuhan sang spesies pun sama, dia makan dan kawin secukupnya, dan para penduduk di sini dapat hidup bermalas-malasan menanti emas turun dari langit.

Mungkin emas itu adalah seekor ikan paus, yang bisa dikonsumsi hingga 50 tahun lamanya, bisa dikatakan seumur hidup bagi hewan dasar laut. Sedikitnya tekanan seleksi alam inilah yang menjelaskan mengapa ikan purba, yang telah ada ratusan juta tahun lamanya, sang legendaris Coelacanth, tampak tidak berevolusi sama sekali.

Lalu  pertanyaannya, mengapa Coelacanth tampak tidak berevolusi. Jawabannya karena Coelacanth mengalami sedikit sekali mutasi karena ia hidup di laut dalam. Apa yang anda harap dari hewan yang hidup di gua di dasar laut?

Radiasi hampir tidak mencapainya, sehingga mutasi sangat langka. Bila mutasi saja sudah sangat langka, apa yang mau di seleksi oleh alam? Coelacanth membuktikan prediksi teori evolusi bahwa mutasi dan seleksi alam merupakan dua faktor yang membangun evolusi sehingga spesies yang tidak mengalami mutasi dan seleksi alam tidak akan berevolusi.

Sedikitnya mutasi yang dihadapi oleh Coelacanth sudah cukup untuk membedakan coelacanth modern, yang ditemukan di Sulawesi dan coelacanth purba, yang ada di fosil, memiliki perbedaan fenotipe.

Spesies yang hidup merupakan famili Latimeridae sementara coelacanth purba merupakan famili coelacanthidae. Perbedaan ini terletak pada perbedaan ukuran, fosil coelacanthidae lebih kecil daripada latimeridae.

Selain itu, beberapa struktur internal latimeridae tidak ditemukan pada fosil coelacanthidae. Terlebih lagi, sisik cosmoid pada spesies modern lebih tipis dan termodifikasi dibandingkan sisik purba pada fosil yang ternyata lebih tebal.

Namun yang lebih nyata ada pada sirip. Sirip latimeridae ternyata telah sangat termodifikasi. Fosil coelacanthidae sayangnya tidak lengkap. Siripnya tidak ikut menjadi fosil sehingga ilmuan tidak tahu.

Untungnya, satu spesies fosil coelacanth baru ditemukan, dan dinamai Shoshonia arctoperyx. Menurut para penemunya, Friedman et al (2007) fosil sirip coelacanth ini sangat berbeda dengan sirip Latimeria.

Zimmer (2007) membuat gambar berikut untuk mengilustrasikannya, perhatikan perbedaan sirip tersebut. Zimmer bahkan mengatakan kalau status fosil hidup pada Latimeria sudah tidak pantas lagi disandangnya, hewan ini terlalu banyak berubah dari leluhurnya di masa lalu.

http://www.faktailmiah.com/wp-content/uploads/2010/07/evolusi-sirip.jpg
Perhatikan sirip Latimeria dan Soshonia di ruas kiri (credit: Zimmer, 2007)

Pertanyaan lain, kenapa ikan dasar laut dikatakan hemat padahal sudah jelas ikan ini tamak. Beberapa bahkan memakan mangsa yang ukurannya lebih besar dari dirinya sendiri, dalam sekali telan.

Ini tentunya salah kaprah, karena ikan demikian ada di antara permukaan laut dan dasar laut, bukannya di dasar laut. Ikan tersebut hanya berada di laut dalam tapi belum cukup dalam untuk sampai ke dasarnya.
 
 
 
( Label: , , , , , ) Read more

Rabu, 09 Januari 2013

3 komentar

Macam - macam ikan air tawar

IKAN BERSISIK (FAMILI CYPRINIDAE)

Ikan bersisik atau biasa disebut putihan karena sisiknya mengkilap berwarna putih merupakan famili ikan terbanyak di air tawar, sekitar 147 ikan bersisik air tawar (Kottelat, 1993) yang ada di Indonesia, mulai dari ikan yang berukuran 1 meter (ikan tambra) sampai hanya seujung jari, seperti ikan wader. Bagi orang awam, semua ikan ini dianggap putihan terutama saat masih berukuran kecil (10-15 cm), padahal mereka jelas-jelas ikan yang berbeda. Untuk mengetahuinya memang dibutuhkan deskripsi ikan tersebut (setidaknya gambar).

Inilah rincian singkat beberapa ikan yang sering terpancing di perairan air tawar yaitu sebagai berikut :

A. Ikan Tawes (Barbodes Gonionotus)

· Tersebar : Ikan ini kosmopolit (hidup melimpah) se-Indonesia kecuali Irian/Papua yang hidup di sungai, rawa dan danau. Ikan ini mempunyai nama lokal : taweh, baru, lunjar, putihan, badir, kandia, rampang, dan bader. Ikan yang terpancing biasanya rata-rata se-telapak tangan, walaupun ada yang berukuran 5 kg (ditemukan di Thailand).

· Biologi : Hidup di semua masa air, pemakan segala, segala musim, dapat dipancing siang dan malam.

· Rekor IGFA : 2 kg oleh J.F.Hellias (Perancis) di Sungai Suphanburi, Thailand, Juli 2003.

· Umpan : cacing, cere, jangkrik, pelet dan lumut.

B. Ikan Palung (Hampala Macrolepidota)ikan palung

· Tersebar : di Pulau Jawa, Sumatera dan Kalimantan. Suka hidup di sungai dan danau. Nama daerahnya : andungan, sebarau, barau, kakap hutan dan palung. Ikan yang terpancing biasanya sekitar 30 cm, tetapi dapat mencapai berat 8 kg.

· Biologi : Merupakan ikan dasar, pemakan ikan, musim kemarau lebih dominan, dapat dipancing siang dan malam. Ciri khas palung adalah bentuk mulut dan mata yang seram, menandakan sebagai ikan predator.

· Rekor IGFA : 6 kg oleh Teck Ah Teng di Malaysia.

· Umpan : ikan kecil dan udang hidup, cacing, serta umpan tiruan (minow dan flies)

C. Ikan Mas (Cyprinus Carpio)



ikan mas· Tersebar : Ikan asal China di introduksi ke Indonesia sejak tahun 1927 dan tersebar luas di Indonesia. Besar maksimal lebih dari 50 kg.

· Biologi : Merupakan ikan yang hidup di semua masa air, pemakan segala, segala musim, dipancing siang lebih baik. Ciri khas utamanya bentuk badan paling membulat dibanding ikan putihan lainnya.

· Rekor IGFA : 34,5 kg oleh Leo van Der Gogten (Belanda) di Danau St Casius, Perancis, Mei 1987.

· Umpan : Pelet dan cacing. Ikan mas saat kecil mirip ikan cakul yang asli Indonesia, tetapi cakul cuma bisa berukuran 15 cm, sedang ikan mas sampai 1 meter.

D. Ikan Grass Karp (Ctenopharyngodon Idella)



· Tersebar : Ikan asli Cina, di introduksi tahun 1970 an, tersebar luas di Indonesia sebagai pemakan gulma (tanaman air). Besar maksimal : 120 cm/60 kg.

· Biologi : Ikan semua masa air, pemakan bahan tumbuhan, segala musim, dipancing siang lebih dominan. Ciri khas utama ikan ini adalah bentuk mulutnya lebih kecil dibanding ikan mas. · Umpan : Lumut, pelet, dan cacing. Ikan ini lebih banyak di kolam pemancingan daripada di aam bebas, karena tidak dapat memijah di alam (ikan yang dijual adalah hasil kawin suntik di balai benih).

E. Ikan Nilem (Osteochillus Hasselti)



ikan nilem· Tersebar : Di pulau Jawa, Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi. Nama daerah : milem, lehat, mangut, rengis, nilem, muntu, palong, palau, pawasa, puyau, assang dan penopa. Biasa hidup di sungai, danau dan rawa yang banyak tumbuh lumut dan tanaman air. Besar maksimal : 30 cm.

· Biologi : Semua masa air, herbivora, segala musim, siang hari lebih dominan. Ciri khasnya adalah adanya sungut di mulutnya.

· Umpan : Cacing, lumut, pelet dan bahan tumbuhan.

F. Ikan Kepras (Puntius Binotatus)



· Tersebar : Di Pulau Jawa, Sumatera dan Kalimantan. Nama Daerah : Benteur, wader cakul, tanah, sepadak, tewaring, sunau, kepras. Hidup di sungai, rawa dan danau. Terutama yang berwarna coklat. Besar maksimal : 20 cm.

· Biologi : Semua masa air, omnivora, segala musim, siang hari lebih dominan.

· Umpan : Cacing, pelet, cere. Ikan ini biasa digunakan sebagai umpan ikan sogo,belida, GT/caru di muara, gabus, toman, palung serta ikan predator lainnya.

G. Ikan Lokas (Dangila Cuvieri)



ikan lokas· Tersebar : Di Pulau Jawa, Sumatera dan Kalimantan. Nama daerah : Umbu-umbu, lambah pasir, bandengan, wadon gunung, nilem tiworo, kujam, pujau bemban. Hidup di sungai dan danau yang dalam (jarang di pinggir sungai), tarikkan ikan termasuk kuat dibanding besar tubuhnya. Besar maksimal 30 cm.

· Biologi : Semua masa air, omnivora, segala musim, sinag hari lebih dominan. Ciri khas ikan ini adalah bentuk tubuhnya yang memanjang seperti ikan bandeng.

· Umpan : Cacing, lumut dan pelet.


H. Ikan Derbang (Puntius Pinnauratus)ikan derbang



· Tersebar : Di Pulau Jawa, Sumatera dan Kalimantan. Nama daerah : Lalawak, lawak, wadon, genggehek, turub hawu, regis, derbang, wader merah, baderbang, halab, iblap dan bihee. Ikan ini banyak terdapat di sungai yang menggenang. Besar maksimal : 20 cm.

· Biologi : Semua masa air, omnivora, segala musim, siang hari lebih dominan. Ciri khas ikan ini adalah adanya semburat merah di pipinya.

· Umpan : Cacing dan pelet.

I. Ikan Wader (Puntius Brammoides)



ikan wader· Tersebar : Di Pulau Jawa, Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi. Melimpah di berbagai macam habitat perairan. Ikan yang paling tahan banting dibanding ikan bersisik lainnya, sehingga masih eksis di semua perairan. Biasa dipancing untuk digunakan sebagai umpan ikan-ikan predator. Besar maksimal hanya 10 cm.

· Biologi : Ikan permukaan, omnivora, segala musim, siang dan malam.

· Umpan : Laron, pelet dan cacing.

J. Ikan Lampan (Barbodes Schwanenfeldi)ikan lampan



· Tersebar : Di Pulau Sumatera dan Kalimantan. Melimpah di sungai dan laku juga di pasar akuarium. Ikan ini dapat mencapai ukuran 30 cm. Nama daerahnya : lempan, salap, lampan sungai, tenadak merah, dan lempem. Mirip ikan tawes, tetapi mempunyai ciri khas dengan adanya 2 garis hitam tebal di sirip ekor, tidak terdapat di Pulau Jawa.

· Biologi : Ikan semua masa air, pemakan segala, segala musim siang dan malam.

· Umpan : Cacing dan pelet.

K. Ikan Kafiat (Puntius Wandersii)ikan kafiat



· Tersebar : Di Pulau Sumatera dan Kalimantan. Tidak ada di Pulau Jawa, tetapi banyak dijual di toko-toko akuarium. Dapat mencapai ukuran sampai 30 cm, dan mempunyai nama lain : Cipo. Perangainya sama dengan ikan tawes. Ciri khas tubuhnya lebih merah di bagian sirip-siripnya dibanding ikan tawes.

· Biologi : Ikan semua permukaan, omnivora, segala musim dan dipancing siang dan malam.

· Umpan : Sama dengan ikan tawes.

L. Ikan Seluang (Osteochillus Schlegeli)



· Tersebar :ikan seluang Di Pulau Sumatera dan Kalimantan. Dapat mencapai ukuran sampai 20 cm. Ikan ini sekilas mirip wader dan cakul tetapi mulutnya persegi. Mempunyai nama daerah diantaranya : Aralin, aralim, sebrok dan merah mata.

· Biologi : Ikan semua masa air, banyak di perairan menggenang. Segala musim dan dipancing siang hari.

· Umpan : Cacing dan pelet.
( Label: , , , , , , , ) Read more

Jumat, 23 November 2012

0 komentar

Fakta unik ikan paus

Whale, dalam bahasa Indonesia biasa disebut Paus. Hewan laut ini pada umumnya mempunya ukuran yang lebih besar daripada seekor gajah. Tidak seperti hewan laut lainnya, paus bernafas menggunakan paru-paru karena dia adalah mamalia. Karena alat pernafasannya yang berupa paru-paru tadi, maka paus sering menampakkan dirinya di permukaan air untuk mengambil nafas di udara bebas seperti mamalia lainnya.

# Fakta Unik Tentang Paus 1
Paus merupakan salah satu hewan terbesar di dunia. Rekor paus terbesar dimiliki oleh spesies paus biru yang memiliki panjang 30 meter dengan berat sekitar 190 ton. Bayi paus biru yang baru lahir saja memiliki berat sekitar 2 ton dengan panjang 1-2 meter.

# Fakta Unik Tentang Paus 2
Paus sirip adalah paus perenang tercepat. Mereka mampu berenang dengan kecepatan hingga 30 km per jam. Selain itu, suara paus biru sangat hebat, suaranya mampu terdengar hingga ratusan kilometer jauhnya di bawah air.

# Fakta Unik Tentang Paus 3
Seekor Paus mampu bertahan 5 hingga 15 menit di bawah air. Kemudian mereka akan kembali ke permukaan untuk mengambil nafas.

# Fakta Unik Tentang Paus 4
Walaupun banyak paus yang ukurannya raksasa, ternyata ada pula paus yang ukurannya relatif kecil yaitu paus pantai yang ukurannya maksimalnya hanya 5 meter.

# Fakta Unik Tentang Paus 5
Setiap harinya ikan paus memakan ribuan ikan-ikan kecil hingga mencapai beberapa ton. Ikan paus juga memiliki cadangan makanan lain berupa lapisan lemak di tubuhnya setebal lebih dari 30 cm.
( Label: , , , , ) Read more

Kamis, 22 November 2012

0 komentar

9 fakta unik tentang hiu

Mungkin ikan hiu di mata makhluk hidup lainnya yang sama-sama hidup di laut,dianggap sebagai salah satu artis di dunia laut, dunia mereka ..mungkin saja ya. Karena ikan hiu selain ukurannya besar, juga sangat ganas . Kali ini memang ada info seputar ikan yang bernama hiu itu. Pokoknya rugi kalau anda melewatkannya begitu saja. Siapa tahu dengan membaca info ini wawasan anda menjadi bertambah luas, dari yang sebelumnya belum tahu jadi tahu, dari yang sebelumnya sudah tahu jadi tambah tahu. Selengkapnya dapat anda simak informasi berikut ini dari SituSaja


Berikut ini adalah 9 FAKTA UNIK SEPUTAR HIU

1. Hiu dapat merasakan setetes darah dari jarak 2,5 mil. Mereka dapat mendeteksi satu bagian dari darah di 100 juta bagian air 
 2. Gigitan hiu begitu kuat sehingga mereka dapat menghasilkan daya hingga 6 ton per inci persegi. 
 3. Hiu, dalam 400 juta tahun di bumi, telah menunjukkan kemampuan luar biasa untuk melawan kanker dan penyakit lainnya.Hal ini menimbulkan harapan di antara para peneliti medis bahwa predator laut yang paling ditakuti akan berubah menjadi teman pasien kanker. Penyidik ​​terus mempelajari sistem kekebalan hiu untuk melihat apakah dia bisa memberikan jawaban untuk menghentikan penyebaran kanker pada manusia.
 
 4. Hiu dapat hidup sampai 100 tahun. Hiu terbesar adalah hiu paus yang bisa mencapai panjang hingga 50 kaki (15m). Hiu memiliki sekitar 300 baris gigi dengan ratusan gigi kecil di setiap baris. 
 5. Gigitan hiu dapat menghasilkan tekanan sekitar enam setengah ton per inci persegi.
 6. Hiu tidak memiliki perangkat keras, tetapi tulang terdiri dari tulang rawan.
 7. Diberi nama Hiu Dogfish karena kecenderungan mereka untuk menyerang mangsanya seperti sekawanan anjing liar 
 8. Telur Ostrich sering dikatakan sebagai telur yang terbesar, tetapi telur terbesar di dunia sebenarnya dimiliki oleh hiu paus .Telurnya memiliki panjang 14 inci (36 cm), ditemukan di Teluk Meksikopada tahun 1953. 
 9. Hiu dapat bertahan hidup setidaknya 6 minggu tanpa makan.Catatan untuk puasa hiu diamati pada akuarium dengan ikan hiu Swell, yang tidak makan selama 15 bulan.
( Label: , , , , , ) Read more

Sabtu, 15 September 2012

0 komentar

9 spesies hewan baru di papua

Papua, yang sering disebut juga pulau cendrawasih tak henti2nya membuat para ilmuan penasaran, mereka mengatakan inilah salah satu tempat dimuka bumi paling misterius yang menyimpan banyak spesies unik dan mengagumkan yang belum ditemukan. dalam kurun waktu 10 tahun saja mereka menemukan lebih dari puluhan spesies baru di pulau yang dibagi menjadi 2 negara itu. dan berikut adalah Inilah 9 Spesies Baru yang di Temukan di Pulau Papua (2000-2011) .
1. Striking damselfish

Adalah salah satu dari 1.060 spesies baru yang ditemukan pada atau dekat pulau New Guinea (lihat peta) antara tahun 1998 dan 2008, menurut sebuah laporan baru. Pulau tropis terbesar bumi terbagi antara Indonesia di barat dan Papua Nugini di timur.
2. Giant Bent-Toed Gecko

Beberapa spesies reptilia 43 baru ditemukan di papua nugini selama sepuluh tahun periode laporan, termasuk ini Giant Bent-Toed Gecko , ditemukan tahun 2001 di Indonesia.
3. Fleshy-Flowered Orchid

Adalah salah satu dari delapan spesies anggrek baru yang ditemukan di wilayah Kikori Nugini selama survei selama satu dekade.
4. Kadal biru kehijauan

Ditemukan di pulau Batanta, dari Semenanjung Papua, pada tahun 2001. Menjangkau sampai dengan 3,3 meter (meter) panjangnya, spesies ini salah satu penemuan paling spektakuler reptil di mana saja,” menurut WWF.


5. Ikan pelangi

Papua nugini memiliki beberapa ikan air tawar paling indah ditemukan di mana saja, termasuk ikan pelangi kecil dan berseri berwarna, menurut WWF.
6. Kuskus bermata biru

Blue-Eyed Spotted Cuscus adalah possum kecil yang ditemukan pada tahun 2004 di Indonesia Nugini. Secara keseluruhan, pulau keragaman tertinggi pohon-tinggal marsupial di dunia, dengan 38 spesies yang luar biasa
7. Snub-Fin Dolphin

Para ilmuwan membuat penemuan yang tak terduga di selatan perairan papua nugini pada tahun 2005: spesies baru lumba-lumba yang disebut Snub-Fin Dolphin.
8. Wattled Smoky Honeyeater

Ditemukan pada tahun 2005 selama ekspedisi Conservation International ke berselimut kabut dari Pegunungan Foja Propinsi Papua di Indonesia.
9. “Magnificent” Orchid

“Magnificent” Orchid Dendrobium limpidum secara resmi bernama pada tahun 2003.
Meskipun pengakuan terakhir, bunga dan kekayaan alam lainnya di New Guinea akan segera menghilang. Antara 1972 dan 2002, sekitar 24 persen dari hutan hujan Papua New Guinea telah dibersihkan atau terdegradasi oleh penebangan atau pertanian subsisten, menurut laporan WWF.
( Label: , , , , , , ) Read more

Senin, 13 Agustus 2012

0 komentar

Ikan Terkecil di dunia

Paedocypris progenetica adalah ikan paling kecil di dunia, dengan ukuran hanya sepanjang 7,9 milimeter. Bahkan ikan Paedocypris progenetica pun pernah dinobatkan sebagai vertebrata (hewan bertulang belakang) terkecil sebelum pada Januari 2012 ‘disalip’ oleh katak Paedophryne amauensis asal Papua Nugini yang lebih pendek.

Ikan Paedocypris progenetica merupakan hewan asli dan endemik Sumatera. Ikan dengan tubuh sangat kecil dan paling pendek ini mendiami daerah rawa gambut. Ikan Paedocypris progenetica pertama kali ditemukan oleh Maurice Kottelat, dan Tan Heok Hui dari Raffles Museum of Biodiversity Research, Singapura pada tahun 2005.

Kecuali nama latin hewan ini, hingga kini saya belum menemukan padanan kata atau nama lain ikan terpendek ini dalam bahasa lokal, bahasa Indonesia, maupun dalam bahasa Inggris. Nama genus ikan ini, Paedocypris diambil dari bahasa Yunani, Paideios yang berarti anak-anak dan Cypris yang berarti Venus (atau berarti perempuan). Jadi bisa dikatakan ikan mungil ini bisa juga disebut “Ikan Anak Perempuan”


ikan-terkecil-didunia

Diskripsi Fisik dan Perilaku. Lantaran ukurannya yang sangat kecil, sepintas ikan ini lebih mirip larva yang berenang di air. Ukuran tubuh ikan Paedocypris progenetica saat dewasa hanyalah sepanjang antara 7,9-10,3 milimeter. Bentuknya pipih memanjang dengan bagian tubuh yang transparan. Makanan utamanya plankton yang hidup di dekat dasar rawa.

Untuk menjaga agar tubuhnya tetap kecil, ikan Paedocypris progenetica berevolusi dengan menghilangkan beberapa organ ikan dewasa. Misalnya otak ikan Paedocypris progenetica yang tidak dilindungi oleh tengkorak kepala. Juga perilaku ikan betina yang hanya dapat menghasilkan beberapa indung telur saja. Ukurannya yang kecil bertahan hidup ketika daerah tempat tinggalnya dilanda kekeringan dengan berlindung di genangan air terdangkal di rawa-rawa.

Ikan Paedocypris progenetica merupakan hewan endemik yang hanya bisa ditemukan di Sumatera, Indonesia. Habitatnya adalah daerah rawa gambut. Sebuah habitat yang unik di mana air di kawasan gambut mempunayi tingkat keasaman yang jauh lebih tinggi dibandingkan air pada umumnya.

Sebagaimana perilakunya yang belum banyak diketahui, populasi ikan terkecil ini juga tidak diketahui secara pasti. Ikan Paedocypris progenetica juga belum terevaluasi atau terdaftar dalam status konservasi IUCN Redlist ataupun dalam daftar apendiks CITES.

Namun keberadaan ikan unik yang berukuran sangat kecil ini, diduga semakin terancam akibat rusaknya rawa gambut oleh tindakan manusia yang berupa deforestasi secara berlebihan dan alih fungsi lahan.

Keberadaan ikan Paedocypris progenetica yang menyandang gelar sebagai ikan paling kecil di dunia membuktikan kekayaan biodiversitas Indonesia yang sangat besar. Pun menjadi sebuah kebanggan tersendiri bagi segenap bangsa. Sayangnya, ikan terkecil ini belum banyak kita kenal, bahkan tidak sedikit yang belum mengetahui kalau Indonesia memiliki salah satu rekor dunia; Paedocypris progenetica ikan paling kecil di dunia.

Klasifikasi ilmiah: Kerajaan: Animalia. Filum: Chordata. Kelas: Actinopterygii. Ordo: Cypriniformes. Famili: Cyprinidae. Genus: Paedocypris. Spesies: Paedocypris progenetica.
( Label: , , , , , , , , , , ) Read more
Best viewed on firefox 5+
Frafiez Family © 2009 - 2014. Keep Cheerful for Shared